Para Jagal Manusia

Polisi Polres Banjarnegara memakamkan kembali 12 orang korban kekejaman Mbah Slamet.

JAMAN semakin maju, tapi kenapa moral justru semakin mundur? Tambah banyak saja manusia berhati iblis, tega membunuh sesamanya hanya karena berebut rezeki. Tahun 1964 pertama kali terjadi jagal manusia, Husin dari Mojokerto (Jatim). Tapi makin ke sini makin banyak saja kisah para penjagal manusia. Ada Kusni Kasdut, Henky Tupanwael, Nurhasan Lamongan, Riyan Jombang, Wowon Bekasi dan kemudian Mbah Slamet di Banjarnegara (Jateng). Mereka ini manusia-manusia biadab, karena tega menjadi iblis kepala hitam lewat pembunuhan berantai.

Mbah Slamet dari Balun Kecamatan Wanayasa Banjarnegara, adalah manusia biadab paling akhir, karena baru terkuak bulan Maret lalu. Semoga ini menjadi kisah pilu yang benar-benar terakhir. Dengan mengaku bisa menggandakan uang, Rp 50 juta menjadi Rp 6 miliar, sejumlah orang tertarik. Mereka datang dengan bawa sejumlah uang, tapi tak pernah kembali setelah dicekoki racun apotas dicampur obat penenang. Para korban lalu dikubur di pinggir hutan.

Ketika Mbah Slamet yang bernama asli Tohari itu mempedayai Paryanto asal Sukabumi, barulah terungkap. Dalam kondisi payah usai minum  cairan misterius, dia sempat WA pada anaknya di Sukabumi, “Untuk jaga-jaga ya, jika bapak tidak ada kabar setelah kirim WA ini, datanglah ke alamat sini sambil bawa aparat.” Benar saja, Paryanto tak berkabar lagi. Anaknya pun mencari ke alamat Banjarnegara. Polisi pun bergerak dengan menangkap Mbah Slamet. Ternyata korban pembunuhan Mbah Slamet ada 12 orang, 8 pria dan 4 wanita. Mereka datang dari berbagai kota, di antaranya Palembang, Yogyakarta, Jakarta, Lampung, dan Tasikmalaya.

Manusia biadab sebelumnya adalah Wowon dari Bantargebang, Bekasi. Sejak tahun 2016 hingga tahun 2022 dia telah membunuh 9 orang dengan dalih penggandaan uang. Kebiadaban si Wowon ini semakin sempurna, karena dia juga tega menghabisi 3 istrinya dan anaknya yang masih balita. Untuk menghilangkan jejak kejahatannya, para korban yang kebanyakan para TKW itu  setelah diracun dikubur dalam rumah dengan dicor.

Tak kalah sadisnya adalah kelakuan Ryan Jombang yang nama aslinya Very Idham Henyansyah (44). Dari tahun 2007 hingga 2008 dia telah membunuh 11 orang. Sebanyak 10 orang di Jatiwates Kecamatan Tambelang Jombang, yang soerang Heri Santosa (40) patnernya sesama LGBT. Dia adalah korban terakhir dari kejahatannya selama ini. Jika Heri Santosa dimutilasi karena soal cemburu, yang lainnya di Jombang karena faktor ekonomi, yakni ingin menguasai harta korban. Tahun 2008 dia sudah divonis mati oleh PN Depok tapi hingga sekarang belum juga dieksekusi, sampai kemudian dikaplok oleh ustadz Bahar Smith di LP Gunung Sindur, Bogor.

Tahun 1964 dari Semarang terbit buku Jagal Manusia karya wartawan Suara Merdeka, Bambang Sumbino. Gambar sampulnya berwarna merah dan hitam, ini merupakan hasil reportase sang wartawan ketika meliput kisah kekejaman Husin Fatwari, pedagang kulit kambing yang membantai 6 orang secara bergantian karena ingin menguasai hartanya. Dalam sidang di PN Surabaya dia dijatuhi hukuman mati, tapi baru dieksekusi tahun 1979.

Kisah jagal manusia paling legendaris mungkin Kusni Kasdut, lelaki asal Malang yang malang melintang dalam dunia kejahatan. Dia merupakan penjahat yang licin bagai belut campur olie bekas. Kisah kriminalnya di masa kemerdekaan terjadi gara-gara membunuh dan merampok pedagang Arab Ali Bajened di Jakarta tahun 1960. Lalu kemudian merampok Museum Gajah Jl. Merdeka Barat Mei 1963. Setelah membunuh petugas museum dia membawa lari 11 berlian koleksi museum. Ketika ditangkap dan diadili dengan vonis mati, masih sempat 8 kali kabur dari penjara. Akhirnya di tahun 1980, Kusni Kasdut dieksekusi di daerah Gresik, Jatim.

Manusia iblis satunya lagi adalah Nurhasan dari Desa Nglebur Kecamatan Kedungpring Kabupaten Lamongan (Jatim). Berdasarkan catatan berita lama, Nurhasan telah membunuh tiga rekan bisnisnya, yakni Suyitno, Sumiyati, dan Muhammad Arifin. Motif pembunuhan itu dilakukan karena Nurhasan hendak menguasai uang para korban yang dititipkan padanya. Dia sampai karatan dalam penjara, sebab tak kunjung dieksekusi sejak tahun 2005. Sudah 17 tahun dia menunggu grasi, dari era SBY sampai Jokowi kini, tak kunjung diberikan. Kata pengacaranya Edy Yusuf, dia sudah bertobat dan menjadi ustadz di LP, maka dia berharap vonis matinya bisa diubah jadi seumur hidup saja.

Hingga saat ini ada masuk waiting list sebanyak 404 terpidana mati, tersebar di sejumlah Lapas termasuk di Nusakambangan. Entah kenapa Kejaksaan Agung tak kunjung mengeksekusinya. Padahal di kala pemerintah defisit APBN gara-gara Covid-19, lumayanlah negara bisa berhemat dengan tidak lagi kasih makan pada ratusan napi unfaedah tersebut. Kemungkinan besar karena negara jadi mikir dua kali gara-gara desakan Komnas HAM.

Tapi memang, mengeksekusi terpidana mati tidaklah sederhana seperti potong ayam negri, cukup pakai kater, baca bismillah, lalu khekkkk….. dan kemudian dilempar ke drum plastik. Kejaksaan harus mengerahkan sejumlah aparatnya termasuk para jago tembak dari Polri. Pada ekesekusi mati tahun 2016 lalu misalnya, kabarnya setiap kegiatan eksekusi membutuhkan anggaran sebanyak Rp 200 juta. Maklum, para eksekutor itu mungkin juga terima honor. (Cantrik Metaram)

 

 

 

Advertisement