JAKARTA – Dr. Dyah Tunjungsari, Spesialis Saraf Konsultan, mengingatkan masyarakat agar waspada terhadap penyakit parkinson yang dapat muncul pada usia muda.
Menurutnya, mitos bahwa penyakit ini hanya menyerang orang tua tidak benar, karena telah banyak dilaporkan di luar negeri, termasuk di Indonesia, bahwa parkinson juga dapat ditemukan pada usia muda.
“Oleh karena itu, deteksi dini diperlukan untuk mencegah komplikasi yang mungkin timbul,” ujarnya dilansir dari Antara, Rabu (12/4/2023).
Dyah menjelaskan bahwa gejala parkinson ditandai dengan hiperaktivitas atau peningkatan aktivitas yang terlalu tinggi di beberapa area otak, yang mengakibatkan pengidapnya mengalami gerakan berlebihan yang sulit dikendalikan.
Sofyan Lesmana, seorang pelatih atau trainer, menyatakan bahwa ia mulai mengalami gejala parkinson sejak usia 33. Sofyan mengatakan, awalnya ia tidak percaya karena stigma di masyarakat bahwa parkinson hanya diderita oleh usia lanjut, padahal saat itu ia masih berusia 33 tahun.
Sofyan mengungkapkan bahwa ia mulai mengalami gejala awal parkinson saat sedang aktif berolahraga badminton dan sepak bola. Saat memberikan informasi dalam pelatihan, tiba-tiba pikirannya menjadi kosong. Ia merasa tubuhnya menjadi kaku, serta sulit memegang raket. Sofyan juga sering mengalami tremor di bagian lengannya.
Ida Sukowati, yang juga pengidap parkinson, mengungkapkan bahwa gejala tremor sudah muncul sejak ia berusia 30 tahun. Ida mengatakan bahwa sekarang, setelah berusia 70 tahun, ia sudah tidak bisa melakukan hal-hal sederhana seperti menulis dan memasak.
Untuk menghindari stigma bahwa parkinson hanya terjadi pada usia lanjut, Sofyan menyarankan kepada masyarakat untuk meningkatkan literasi tentang parkinson, sehingga tidak mudah terpengaruh oleh hoaks dan mitos yang salah.
“Perbanyak pengetahuan dan literasi tentang parkinson, karena seperti yang dikatakan dokter, kita perlu waspada karena penyakit ini bisa muncul pada usia muda,” kata Sofyan.





