Pasca Gempa Jepang, Stok Pangan dan Air Bersih Menipis

Tim penyelamat menyisir lokasi reruntuhan karena gempa. Foto:heraldsun.com.au

TOKYO – Pasca dua gempa yang melanda Jepang Kamis dan Minggu lalu, aktifitas belum pulih sepenuhnya.

Karena itu, pemerintah Kumamoto mengungsikan 250.000 warga lokasi paling berisiko. Seluruh penerbangan dari dan ke Kumamoto masih dibekukan. Shinkansen atau kereta peluru Jepang untuk sementara juga tidak beroperasi di kawasan selatan Pulau Kyushu.

Tidak hanya menghancurkan Kumamoto, akibat gempa itu juga mengguncang pasar saham Jepang. Lantaran sebagian besar perusahaan global yang beroperasi di kawasan tersebut belum beroperasi. Saham Sony Corp dan Toyota Motor turun 6,8 persen serta 4,8 persen. Sedangkan saham Nissan Motor dan Honda Motor anjlok 3 persen masing-masing. Saham Kyushu Electric Power, operator PLTN di Kyushu, juga turun sekitar 8 persen.

Hingga kemarin (18/4), tidak kurang dari 30.000 personel tim penyelamat gabungan masih menyisir area gempa untuk mencari korban selamat atau mengevakuasi mayat.

”Masih banyak orang yang dilaporkan hilang. Karena itu, kami akan mengintensifkan misi penyelamatan dan pencarian korban. Nyawa manusia menjadi prioritas utama kami,” tegas Perdana Menteri (PM) Shinzo Abe di hadapan parlemen kemarin,seperti dilansir Reuters.

Dalam waktu dekat, dia juga akan mendeklarasikan kawasan tersebut sebagai zona darurat. Dengan demikian, dana dan bantuan untuk rekonstruksi bisa lebih bebas mengalir ke wilayah itu.

Sejauh ini, jumlah korban tewas yang mengguncang kawasan selatan Negeri Sakura pada Kamis (14/4) dan Sabtu lalu (16/4) itu mencapai 42 orang. Lebih dari 1.000 orang terluka dan sekitar 200 korban di antaranya parah. Sedangkan sedikitnya 250.000 warga lain terpaksa mengungsi karena tempat tinggal mereka masuk zona rawan gempa.

Selain itu, daerah itu juga tanpa listrik dan aliran air bersih, kondisi di tempat-tempat penampungan korban gempa pun membuat prihatin. Di Kota Aso, korban-korban selamat yang tinggal di tempat penampungan mengeluhkan minimnya bantuan pangan.

Minggu malam lalu (17/4) para korban mengaku hanya menerima dua onigiri atau nasi kepal masing-masing. Sedangkan persediaan air bersih di tempat penampungan itu tidak mencukupi kebutuhan mereka.

”Tanpa air bersih dan listrik, kami tidak bisa melakukan apa-apa. Karena tidak ada televisi, kami sama sekali buta tentang informasi penanggulangan bencana,” keluh Megumi Kudo, korban.

Hingga kemarin, gempa susulan masih terus terjadi. Sedikitnya ada 500 gempa susulan, 70 di antaranya masuk kategori kuat dan bisa merobohkan gedung. Karena itu, pemerintah Kumamoto mengungsikan 250.000 warga lokasi paling berisiko. Seluruh penerbangan dari dan ke Kumamoto masih dibekukan. Shinkansen alias kereta peluru Jepang untuk sementara juga tidak beroperasi di kawasan selatan Pulau Kyushu.

Advertisement