Pasca Jatuhnya Aleppo. Damaikah?

boredpanda.com
aleppo sebelum dan setelah perang

JATUHNYA kota Aleppo timur yang dipertahankan mati-matian oleh kelompok perlawanan ke tangan pasukan loyalis Presiden Suriah, Bashar  al-Assad yang didukung Rusia mungkin tinggal menghitung hari.

Namun para analis menyangsikan, perdamaian di Suriah yang sekitar lima tahun tercabik-cabik akibat perang saudara akan segera terwujud, mengingat  dalamnya luka-luka yang dialami segenap elite maupun rakyat yang terbelah dalam kubu-kubu pertikaian.

Terdesak oleh kepungan dan gempuran pasukan loyalis al-Assad yang jumlahnya beberapa kali lipat, didukung serangan jet-jet tempur Rusia, kelompok  perlawanan melalui Jubir Front Fath al-Syam menawarkan gencatan senjata (7/12).

Butir-butir  yang ditawarkan berupa gencatan senjata selama lima hari, evakuasi korban-korban terluka parah (sekitar 500 orang) dan warga sipil dari Aleppo timur serta memulai perundingan antara pihak-pihak bertikai mengenai nasib kota tersebut ke depannya.

Pasukan perlawanan dilaporkan tinggal tersisa menguasai wilayah sempit di bagian tenggara Aleppo yang dikepung dari berbagai arah oleh pasukan loyalis al-Assad.

Sejauh ini pemerintah Suriah dan konconya, Rusia menolak setiap tawaran gencatan senjata yang tidak dibarengi penarikan mundur pasukan perlawanan, bahkan menjawabnya dengan mengintensifkan gempuran dan bombardemen udara.

Rusia memveto rancangan resolusi Perancis ke DK PBB Oktober lalu dan juga berada di balik gagalnya gencatan senjata antara negara beruang merah itu dengan AS yang disepakati  September lalu.

Alasannya, pemerintah Suriah sebagai negara berdaulat, menolak setiap upaya campurtangan pihak luar, juga tidak menghendaki jika  wilayah Aleppo timur  berada di bawah cengkeraman kelompok  yang memerangi pemerintah .

Namun seandainya konflik bersenjata antara pasukan rezim Assad usaipun, bukan berarti  rakyat Suriah otomatis akan bisa menikmati hidup  tenteram dan damai.  Penyebabnya, tentu saja, tidak seluruh mantan “combatant” bersedia menerima  kepemimpinan seteru mereka, Presiden al-Assad dan rezimnya.

“Ada yang akan menjadi pemenang perang di Suriah, tetapi semua akan kehilangan (moment-red) perdamaian, “ kata Kepala Urusan LN Uni Eropa untuk Suriah, Federica Mogherin menanggapi perkembangan terakhir di lapangan.

Sementara Utusan Khusus PBB untuk Suriah, Staffan de Mistura berpendapat, kemenangan pasukan rezim al-Assad masih perlu dibarengi dengan rangkaian negosiasi antara seluruh pihak-pihak yang bertikai.

Di atas angin

Dari bandul perimbangan kekuatan di lapangan,  pasukan loyalis rezim incumbent pimpinan Bashar al Assad memang berada di atas angin.

Berkekuatan  40.000 anggota berintikan satuan elit Divisi IV pimpinan abang  kandung Assad, Jenderal Maher al-Assad dan dilengkapi 100 tank dan 400 kendaraan lapis baja, belum lagi dukungan dari jet-jet tempur Rusia, pasukan loyalis al-Assad terus merangsek maju.

Para analis militer memperkirakan, walaupun bertahan habis-habisan, sekitar 5.000 anggota pasukan perlawanan bersama l5.000 anggota Laskar Front Fath al-Syam yang masih bertahan di bagian kota Aleppo timur akan kewalahan menghadapi gempuran musuhnya yang berapa kali lipat lebih kuat.

Selain memberikan perlindungan dari udara, Rusia yang memiliki hak veto di Dewan Keamanan PBB juga memainkan kartu truff  untuk mengendalikan konflik Suriah seperti yang dikehendakinya.

Konflik Suriah terjadi akibat akumulasi kepentingan dan perebutan pengaruh serta  konspirasi politik.                                                               Di tingkat sektarian (antara sekte Sunni dan Syiah), di tingkat nasional (rezim al-Assad melawan kelompok perlawanan), perebutan pengaruh dan kepentingan regional (antara Arab Saudi, Turki di satu pihak dan  Iran, Irak dan Kurdi di pihak lain) dan di tingkat  global, antara AS dan Rusia.

Koalisi Internasional pimpinan AS dan di pihak lain koalisi Rusia, Iran,Irak sebenarnya  berada satu front menghadapi musuh bersama, NIIS.

Bedanya, koalisi Barat tidak menghendaki  rezim Al-Assad yang dianggap otoriter dan bertanggungjawab dalam pembantaian terhadap lawan-lawannya. Sebaliknya Rusia ngotot  membela Al-Assad, sekutu lamanya.

Kubu anti pemerintah Suriah dan koalisi Barat di bawah AS juga  menuduh  Rusia telah mencuri-curi kesempatan untuk menyerang kubu anti al-Assad, tidak fokus memerangi NIIS.

Sekitar dua juta warga Suriah hengkang dari negaranya, menyabung nyawa menyeberangi Laut Mediteranea atau melintasi daratan Turki menuju Eropa, sekitar 12 juta orang kehilangan mata pencaharian, dan  lebih 300.000 tewas terjebak di tengah konflik.

Entah sampai kapan derita rakyat Suriah akan berujung. Walahualam,

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Advertisement