Pasca Takluk di Mosul, NIIS Kemana?

Tank-tank pasukan Irak merangsek ke benteng terakhir dan ibukota NIIS di Mosul (jejaktapak)

BAGIAN kota tua Mosul yang dijadikan benteng perlawanan terakhir kelompok Negara Islam di Irak dan Suriah (NIIS) akhirnya jatuh ke tangan pasukan pemerintah Irak, Minggu lalu (9/7).

Kemenangan pasukan Irak dimotori satuan elit polisi (CTS) merebut kawasan Mosul barat, dinyatakan secara resmi oleh PM Irak Haider al-Abadi langsung dari kota kedua terbesar di Irak itu yang semula diproklamasikan sebagai ibukota NIIS pada 10 Juni 2014.

Pertempuran sejak November lalu memperebutkan kota Mosul antara pasukan koalisi Irak didukung Peshmerga (milisi Kurdi), milisi Arab dan AS melawan kelompok NIIS tidaklah mudah, tercermin dari 50.000 korban tewas dan luka-luka di kedua belah pihak dan juga warga sipil.

Selain hilangnya nyawa, bisa dibayangkan tentunya jumlah orang yang terdampak perang karena kehilangan orang tua, anak, kaum kerabat atau korban yang lolos dari maut tetapi kehilangan masa depan akibat mengalami cacat permanen.

Sebanyak 900.000 warga Mosul terpaksa mengungsi untuk menghindari perang, di kamp-kamp pengungsi di wilayah Kurdistan atau kota-kota sekitar Mosul, namun sekitar 20.000 orang diantaranya terjebak di tengah pertempuran atau digunakan sebagai perisai hidup oleh NIIS.

Bagi NIIS, perlawanan mereka di Mosul memang sudah berakhir, dan sekitar 6.000 combatant  yang mempertahankan kota tersebut tercerai-berai, terutama ke ke kota Tal Afar, 63 Km dari arah barat Mosul), lembah Nineveh atau di sepanjang tepi Sungai Eufrat di sekitar perbatasan Irak dan  Suriah.

Jika pemerintah Irak lengah, tidak mustahil, milisi NIIS melakukan konsolidasi dan menyusun kekuatan lagi untuk sewaktu-waktu merebut Mosul atau wilayah lainnya kembali.

Bagi pemerintah Irak , selain mengantisipasi kemungkinan konflik baru disulut kepentingan regional maupun terjadinya fragmentasi di berbagai kubu dan aliran di panggung politik lokal, menata kembali sarana dan prasarana publik yang luluh-lantak akibat perang adalah persoalan-persoalan besar yang perlu dicari solusinya.

NIIS sendiri bisa bermetamorfosa atau tampil dengan nama atau wajah lain, melebur dengan kelompok radikal lainnya atau memindahkan aksi-aksi mereka kewilayah lain seperti yang diserukan oleh pemimpin tertingginya, Abu Bakar al Baghdadi.

“Anda tidak perlu datang ke Irak atau Suriah, tapi dapat memperjuangkan kekhilafahan di negeri masing-masing, “ ujarnya. Aksi kelompok Maute di kota Marawi, Filipina yang masih berlangsung saat ini adalah salah salah bukti eksistensi NIIS di luar Irak dan Suriah.

Kebodohan, kesenjangan ekonomi dan kemiskinan adalah lahan persemaian  subur bagi radikalisme . Begitu mudahnya orang tersulut emosinya diprovokasi sentimen agama atau mau diajak menjadi “pengantin” bom bunuh diri diiming-imingi akan bertemu bidadari atau diganjar kenikmatan surgawi lainnya.

“PR” panjang bagi pemerintah mana pun termasuk RI, menanamkan toleransi dan kerukunan bagi anak-anak sedini mungkin, mencerdaskan mereka, menciptakan keadilan  dan penegakan hukum dan juga meratakan kesejahteraan ekonomi untuk mencegah tumbuhnya benih-benih dan melawan radikalisme seperti NIIS.

(AP/AFP/Reuters/NS)

 

 

 

 

     

 

 

Advertisement