BANGLADESH – Musim dingin telah tiba dan 650.000 lebih pengungsi Rohingya yang melarikan diri dari tindakan brutal pasukan Myanmar dalam empat bulan terakhir masih terus membutuhkan pasokan makanan.
Pasokan makanan dan tempat berlindung lambat-laun terorganisir, tetapi masa penantian itu lama dan persediaan langka bagi mereka yang memiliki keluarga besar atau lebih dari delapan orang.
Shelly Thakral dari WFP (World Food Program) mengatakan pihaknya perlu menjawab kebutuhan orang-orang yang mengatakan kepada mereka, ‘kami lapar dan tidak memiliki cukup makanan.”
Survei kamp baru-baru ini dari kelompok HAM Doctors Without Borders melaporkan setidaknya 6.700 Rohingya tewas dalam serangan di Myanmar.
Gambar-gambar satelit menunjukkan 40 desa lebih mengalami kerusakan bangunan pada bulan November, sehingga total kerusakan menjadi menjadi 354 desa.
Sementara bukti tersebut bertambah, para pekerja krisis yang paling berpengalaman mengatakan hal itu tidak mengejutkan.
Aservatham dari organisasi NonViolent Peaceforce mengatakan, “Setelah menyaksikan semua situasi traumatis ini, melihat saudara laki-laki dan perempuan, ayah dan ibu mereka dibunuh di depan mereka dan diperkosa, tidak tepat kalau mereka segera kembali.”
Sementara itu pengungsi seperti Muhamid Amar juga tidak menunjukkan tanda-tanda ia siap untuk segera kembali pulang.
“Kami tidak akan kembali ke Myanmar kecuali kami memperoleh hak-hak kami. Jika kami ke sana, mereka akan menebas, membunuh dan menembak kami. Jadi kami tidak akan kembali,” kata Amar, dilansir VOA.
Pemerintah Myanmar sejak lama menolak tuduhan melakukan kekejaman terhadap warga Rohingya, namun tidak jelas kapan atau apakah kelompok minoritas Muslim tersebut bisa kembali. Sementara itu, krisis kemanusiaan di kamp pengungsian kemungkinan akan berlanjut hingga 2018.




