DULU istilah begal mengandung makna sebagai tindak kejahatan di jalan, berupa perampasan barang secara paksa. Tapi di era gombalisasi ini, meskipun sama-sama aset, perampasan itu kini terjadi pada organ tubuh manusia. Sebetulnya sih bukan perampasan, tapi sekedar pelecehan seksual belaka. Tapi karena yang digerayangi payudara wanita muda, istilahnya menjadi salah kaprah: begal payudara. Dan itu kini sering terjadi di mana-mana.
Paling baru terjadi di Pekalongan (Jateng), pada pertengahan Maret 2022 lalu. Pelakunya adalah MN (36), lelaki duda warga Kecamatan Bojong. Dalam pemeriksaan di Polsek setelah ditangkap beberapa jam kemudian, dia mengaku kesepian setelah diceraikan istri dua tahun lalu. Katanya, sejak tak ada istri dia kesulitan menyalurkan libidonya, sehingga bisa gerayangi payudara wanita sudah lumayan. Padahal jika MN kadung hobi gerayangi payudara, kenapa tidak kerja di pemerahan susu sapi di Boyolali saja? Di situ dia bisa menyalurkan hobi, bahkan dibayar pula.
Bila dilihat pada Mbah Google, ternyata lelaki model MN Pekalongan ini ombyokan. Ibarat kata, dari Sabang sampai Merauke berjajar begal-begal payudara, sambung menyambung menjadi satu, itulah kejahatan seksual yang layak dipidana. Dari Aceh misalnya, pada Juli 2021 AC (37) pegawai honorer di sebuah instansi Banda Aceh ditangkap karena gerayangi payudara mahasiswi IN (24) di Pineueng. Dia kena hukum cambuk puluhan kali.
Lalu di Sentani Kabupaten Jayapura, R (29) juga ditangkap polisi Januari 2022 karena menggerayangi payudara sejumlah wanita. Sebetulnya sudah lama dia diincar polisi, dan baru yang ke-8 kalinya dia kena batunya, ketika wanita korbannya berhasil mengingat Nopol motornya. Lebih gila lagi di Denpasar Bali. KW (21) baru berhasil dibekuk polisi setelah 21 kali beraksi. Jadi begal payudara sampai sebanyak itu, apa nggak sampai ngapal dia punya tangan?
Sebenarnya soal begal payudara bukan hanya terjadi di era milenial. Pasca jaman kolonial, sekitar tahun 1960-an hal semacam itu juga sudah ada. Tapi pelakunya baru para ABG dengan korban para ABG pula. Medannya di tempat pertunjukan wayang atau ketoprak. Di tengah kerumunan masa tiba-tiba seorang gadis berteriak, “Luweh, luweh, setan setan….!” Ternyata dia baru saja digerayangi remaja bergajulan tingkat kampung.
Sebelum tahun 1970, di seputar HUT RI Pemprov DIY menggelar Malioboro Fair di malam hari. Banyak pentas seni di sini, termasuk menjadi arena dagang. Jalan raya dari palang pintu KA Stasiun Tugu hingga bunderan depan Gedung Agung, ditutup untuk kendaraan umum. Warga kota memadati jalan raya legendaris tersebut. Nah, anak muda iseng yang mencoba jadi “begal payudara” pernah kena batunya. Soalnya ada seorang gadis yang sengaja memasang banyak jarum pentul di BH-nya. Begitu dia mencoba meremas payudara si gadis, langsung teriak kesakitan karena kecocok jarum-jarum pentul tersebut.
Payudara wanita memang memiliki daya tarik tersendiri. Bentuknya yang nyengkir gading kata sastrawan Jawa, atau mandul-mandul kata Kidalang Anom Suroto, banyak menimbulkan imaginasi bagi para pelukis. Basuki Abdullah pelukis naturalis, banyak mengeksploitir payudara wanita dalam berbagai lukisannya. Tentu saja ini payudara milik wanita muda bukan payudara kopek (kendor) milik para nenek.
Secara medis ASI (Air Susu Ibu) yang diproduksi payudara sangat membantu pertumbuhan si bayi. Bandingkan dengan anak yang kurang minum ASI. Yang banyak minum ASI cepet gede sedangkan yang kurang minum ASI bisa terancam stunting. Apa lagi bila kekurangan juga makanan pendamping (MP), gara-gara kemiskinan orangtuanya.
Sayangnya, kini banyak wanita karier yang enggan menyusui karena takut payudara miliknya menjadi kendor. Kewajiban menyusui bayi lalu didelegasikan pada susu sapi produk pabrikan. Padahal kata dokter Lula Kamal yang juga artis, tanpa menyusui pun pada usia 40 payudara akan mengendor secara alami, karena mulai kehilangan lemaknya. Karenanya salah besar bila wanita karier tak mau menyusui anak-anaknya, karena menganggap ASI adalah: Ayah Saja Ini. (Cantrik Metaram)





