JENEWA – Sekretaris Jenderal PBB, Antonio Guterres mendesak Armenia dan Azerbaijan untuk menghormati gencatan senjata.
“Kehilangan tragis nyawa warga sipil, termasuk anak-anak, dari serangan terbaru yang dilaporkan di kota Ganja sama sekali tidak dapat diterima. Begitu pula serangan membabi buta di daerah berpenduduk dimanapun,” kata pernyataan dari juru bicara Guterres, Stephane Dujarric, yang mengecam salah satu serangan paling mematikan terhadap warga sipil sejauh ini, ketika sebuah rudal menghantam daerah pemukiman kota Ganja pada hari Sabtu lalu.
Dia menambahkan, Sekretaris Jenderal mencatat pengumuman terbaru tentang dimulainya gencatan senjata kemanusiaan pada 18 Oktober dan mengharapkan kedua pihak untuk sepenuhnya mematuhi komitmen ini dan melanjutkan negosiasi substantif tanpa penundaan.
Azerbaijan dan Armenia telah terlibat dalam konflik sengit atas Karabakh sejak separatis Armenia yang didukung oleh Yerevan menguasai provinsi pegunungan itu dalam perang tahun 1990-an yang menewaskan 30 ribu orang.
Deklarasi kemerdekaan wilayah tersebut belum diakui oleh negara manapun, termasuk Armenia dan masih menjadi bagian dari Azerbaijan menurut hukum internasional. (Baca juga: Baru Disepakati, Armenia Sudah Tuding Azerbaijan Langgar Gencatan Senjata)
Pertempuran yang meletus tiga minggu lalu telah menjadi yang terberat sejak gencatan senjata tahun 1994 dan mengancam akan menarik kekuatan regional Turki, yang mendukung Azerbaijan dan Rusia, yang memiliki aliansi militer dengan Armenia.





