JENEWA – Badan pengungsi PBB telah meminta pihak berwenang Israel untuk membatalkan sebuah program baru yang memaksa ribuan pengungsi Afrika keluar dari wilayah-wilayah pendudukan.
William Spindler, juru bicara Komisioner Tinggi PBB untuk Pengungsi (UNHCR), mengatakan dalam sebuah konferensi pers pada hari Selasa (9/1/2018) di kota Jenewa, Swiss, bahwa program tersebut tidak koheren dan telah dilaksanakan secara tidak transparan.
“Kami kembali meminta Israel untuk menghentikan kebijakannya untuk memindahkan orang-orang Eritrea dan Sudan ke sub-Sahara Afrika,” kata Spindler.
“Pernyataan resmi bahwa rencana tersebut pada akhirnya dapat menargetkan keluarga dan orang-orang dengan klaim suaka yang tertunda, atau bahwa pencari suaka dapat dibawa ke bandara dengan diborgol, sangat mengkhawatirkan.” tambahnya.
Dilansir Aljazeera, Spindler mengatakan sekitar 27.000 orang Eritrea dan 7.700 orang Sudan tinggal di Israel, namun pihak berwenang di sana hanya memberikan status pengungsi sampai 11 sejak 2009.
Di Eropa, Eritrea memiliki tingkat pengakuan yang sangat tinggi saat para pengungsi melarikan diri dari perang atau penganiayaan, kata juru bicara UNHCR. “Jadi kita harapkan di antara mereka, banyak yang akan lolos ke status pengungsi.”
“Apa yang ingin kita lihat di Israel, dan kita bersedia membantu dalam hal ini, adalah menemukan alternatif legal untuk orang-orang ini, melalui pemukiman kembali di negara lain.” ujarnya.
Di tempat lain dalam sambutannya, Spindler mengatakan dalam dua tahun terakhir, UNHCR telah mewawancarai 80 pengungsi Eritrea di Roma yang tiba di Italia setelah melakukan perjalanan berbahaya melintasi Afrika setelah mereka berangkat dari Israel ke Rwanda.





