Perang Dunia, Cukup Dua Kali Saja

Seabad berakhirnya Perang Dunia I (1914 - 1918) digelar di Paris, Minggu (11/11). 18 juta orang tewas dalam perang yang pertama kali digunakan senjata kimia itu.

PARA pemimpin dunia berkumpul di Paris, Perancis, Minggu ini (11/11) guna memperingati seabad berakhirnya Perang Dunia I, tentu juga dengan semangat agar tragedi kemanusiaan tersebut tidak terulang kembali.

“Hari ini tidak hanya untuk mengenang, tetapi juga memenuhi panggilan untuk berbuat (menciptakan perdamaian-red), “ kata Kanselir Jerman Angela Merkel di Paris, Sabtu.

Merkel dan mitranya, Presiden AS Donald Trump, Presiden Rusia Vladimir Putin dan Presiden Perancis Emmanuel Macron yang menjadi pemrakarsa peringatan tersebut hadir bersama sekitar 70 pemimpin negara yang terlibat perang yang berlagsung dari 1914 hingga 1918 yang menewaskan 10 juta tentara dan delapan juta warga sipil tersebut.

Peringatan 100 tahun berakhirnya PD I digelar di Makam Pahlawan Tak Dikenal di bawah monumen Arc de Triomphe, Paris, sedangkan sehari sebelumnya, Sabtu (10/11) , Merkel, Macron dan PM Kanada Justin Trudeau mengunjungi makam militer PD I di Belle Wood, 80 Km dari Paris, sedangkan Trump berhalangan hadir.

Sebelumnya, rangkaian peringatan berakhirnya PD I dilakukan Merkel dan PM Inggeris Theresa May di wilayah perbatasan Belgia. Selain membahas isu Brexit atau keluarnya Inggeris dari Uni Eropa, keduanya juga berziarah ke makam prajurit korban PD I.

PM May juga menziarahi makam dua prajuritnya, John Parr yang tewas di hari pertama PD I di Belgia utara pada 21 Agustus 1914 dan George Ellison di hari terakhir PD I, 11 Nov. 1918.

Di Inggeris, lonceng-lonceng gereja bedentang pukul 11.00 pagi waktu setempat, bertepatan dengan penandatanganan gencatan senjata pada 11 November 1918 dalam perang selama 52 bulan di satu pihak Jerman di bawah kekaisaran Prusia bersama kekhalifahan Usmani (Turki) dan Kekaisaran Austria-Hongaria yang dikalahkan, melawan kubu Inggeris, Perancis, Rusia dan AS yang keluar sebagai pemenangnya.

Peringatan serupa terhadap tragedi kemanusiaan tersebut juga digelar di Australia dan Selandia Baru yang kehilangan sekitar 80.000 anggota tentaranya untuk ambil bagian dalam PD I di kubu AS dan sekutu-sekutunya.

PD I bukan satu-satunya tragedi terbesar umat manusia, karena kemudian pecah Perang Dunia II antara 1939 sampai 1945 melibatkan sekitar 100 negara di kubu AS dan sekutu-sekutunya di dua front yang berbeda, di palagan Eropa melawan Jerman dan di Asia Timur melawan JepangPD II menewaskan 15 juta tentara dan 46 juta warga sipil.

Jika terjadi Perang Dunia III, jumlah korban manusia tentu bakal berlipat ganda mengingat dahsyatnya senjata pemusnah massal milik sejumlah negara adi daya yang daya penghancurnya melebihi kapasitas yang diperlukan untuk menghancurkan lawan.

Era now ditandai semangat globalisasi dan kemitraan serta tekad bahu-membahu membangun dunia yang lebih adil dan sejahtera serta lenyapnya imperialisme dan kolonialisme dari muka bumi, sehingga perang semacam PD I dan PD II agaknya jauh dari kemungkinan.

Konflik militer saat ini kemungkinan sebatas di tingkat kawasan atau kecil-kecilan antarnegara bertetangga atau dipicu pergolakan politik nternal suatu negara. (AP/AFP)

.

Advertisement