SEKELOMPOK orang diduga preman, kemarin malam ngamuk di warung pecel lele Jl. Dewi Sartika. Gara-garanya sepele, mereka pecan pecel lele tak kunjung siap. Saat mereka mengomel pada pemilik warung, anggota TNI menegur, “Kamu mabuk?” Ee, mereka marah. Dua tentara itu diserang sampai luka-luka. Begitu polisi datang melerai, preman itu kabur. Jaman now seperti sekarang ini, soal pecel lele saja bikin berabe.
Beberapa hari sebelumnya juga terjadi hal serupa di Madiun. Tiga anak muda membeli makanan di minimarket di Jl. Letkol Sumarno, Kanigoro. Harga makanan Rp 17.000,- tapi hanya dibayar Rp 6.000,- Tentu saja kasir protes, mereka bukan keluarkan duit lagi, tapi malah clurit. Untung polisi datang, sehingga mereka kabur. Tak lama dalam pengejaran, ketiganya digelandang ke Polres Madiun. Enak saja beli makanan bayar semaunya, memangnya punya nenek lu?
Yang namanya preman, di mana-mana memang bikin tidak aman. Suka kompas sana kompas sini, makan tidak bayar; sungguh menjadi momok pedagang K-5. Ini menjadi pekerjaan rutin polisi untuk menertibkan. Tapi selalu tumbuh kembali. Ibarat kata: biduk lalu kiambang bertaut. Mereka takut ketika masih ada petugas, setelah itu balik lagi kompas sana kompas sini.
Istilah preman muncul sejak jaman penjajahan Belanda dulu. Asal katanya frij man yang mengandung makna: manusia bebas. Di jaman itu sudah ada juga sekelompok orang yang kerjanya malak pada penduduk. Tapi ketika pemerintah Hindia Belanda menindaknya, mereka melawan. Sejak itu Belanda menyebutnya: vrij man yang kemudian bergeser jadi free man. Lidah orang Indonesia kemudian menyebutnya sebagai: preman. Celakanya, orang tidak berpakaian dinas pun kemudian disebut pakaian preman.
Jaman Orde Baru, manusia preman yang di Yogyakarta-Solo disebut gali, ditumpas habis oleh Pangkopkamtib Sudomo. Identitas preman biasanya suka menato tubuh. Nah, orang-orang bertato waktu itu umurnya tinggal menghitung hari. Banyak dari mereka yang kemudian berusaha menghapus tato itu dengan berbagai cara. Banyak yang belum sampai hilang tatonya, kadung hilang nyawanya jadi sasaran petrus (penembak misterius).
Di masa itu preman habis di seluruh penjuru kota besar. Tapi hanya sementara, sebab Orde Baru tumbang, preman kembali bersimaharajalela. Mereka berani pula membunuh petugas, sehingga di Jakarta bulan Mei 2017 pernah membumi-hangus preman-preman Ibukota. Tak kurang dari 1.475 orang dibekuk dari 534 kasus.
Tapi itu tidak lama. Kini preman di Jakarta tetap saja berjaya. Seputar Pasar Tanah Abang terkenal sebagai pangkalan mereka. Bahkan seperti kata majemuk saja, menyebut Preman Tanah Abang seperti orang melafal: gudeg Yogya, bolang-baling Semarang, gethuk Sokaraja, semanggi Surabaya, dan seterusnya.
Pemprov DKI dibawah Anies – Sandi pernah menggagas berdayakan preman Tanah Abang bersinergi dengan pedagang K-5. Banyak publik yang menanggapi dengan sinis. Mana bisa pedagang K-5 berkoalisi dengan preman. Selama ini preman selalu memeras mereka, kok malah diajak kerjasama. Rumus dari mana itu?
Maka yang terjadi preman Ibukota terus jalan sendiri, sesuka-suka sendiri, sehingga terjadi kasus seperti di Jalan Dewi Sertika, Cawang. Kasihan memang para pedagang pecel lele. Belum dapat untung sudah dijaili para preman. Betul-betul bikin berabe. Tapi lebih kasihan para kaum ikan lele. Semenjak pengangguran tambah membengkak, mereka yang jadi sasaran pembantaian. Di mana-mana orang jualan pecel lele, tapi Komnas HAM tak bisa berbuat apa-apa. (Cantrik Metaram).





