APA beda antara bintang film dengan bintang birokrasi (pejabat)? Jawabnya adalah: bintang film berambisi dapat piala Citra, sedangkan pejabat gemar pencitraan! Bintang film akan main sebaik-baiknya sesuai skenario dan arahan sutradara, sedangkan pejabat “bermain” untuk membangun image bahwa dirinya tokoh baik, bersih dan berwibawa. Cuma yang sering terjadi sekarang, banyak pejabat rusak citranya, karena kelakuannya seperti Raden Citraksi (tokoh wayang Kurawa). Ibaratnya buah, mereka ini jenis buah kedondong; di luar halus mulus, dalamnya pating sruwat (jelek sekali).
Bagi orang Jawa penggemar wayang, tahu persis akan karakter Citraksi ini. Bagi yang belum tahu, bisa diberi sedikit gambaran bahwa dia bagian dari keluarga Kurawa yang berjumlah 100 itu. Dia bukan tokoh penting, tapi merasa sok penting dan sering mementingkan diri sendiri. Dalam pertemuan yang dipimpin Patih Sengkuni, Citraksi datang telat melulu, tapi paling banyak omong dan pating pecothot (tak keruan) lagi. Lalu, demennya nguping, kali-kali ada proyek yang bisa dimainkan.
Nah, banyak kan pejabat Indonesia yang berotak proyek? Tapi karena terminologi “otak proyek” itu kesannya sangat negatif, sang pejabat pantang menampakkan karakter dan wajah aslinya. Dia akan selalu tampil santun, tutur katanya terukur. Dalam mengelola anggaran yang jadi tanggungjawabnya juga nampak bagus. Artinya semua terserap dan bebas dari SiLPA (Sisa Lebih Pemanfaatan Anggaran). Padahal aslinya, sebagian besar terserap masuk kantong sendiri dan juga para anak buahnya.
Ironisnya, kalangan pengamat dan banyak rakyat justru demen pembangunan citra model demikian. Pejabat yang tak bisa menghabiskan anggaran, dinilai tak bisa kerja. Akhirnya agar citra sebagai pejabat tetap bagus, sisa anggaran digunakanlah untuk hal-hal tidak perlu, misalnya menggelar seminar dan lokakarya. Padahal tak terserapnya anggaran itu lantaran sang pejabat ingin menyelamatkan uang negara. Ketimbang uang habis tapi masuk kantong pejabat dan konco-konconya, mending kembali ke kas negara.
Sayangnya pejabat yang jujur di republik ini justru tak disukai oleh pejabat atasnya lagi. Pernah terjadi pada sebuah badan milik negara, seorang pejabat muda mengembalikan sisa uang proyek Rp 500 juta (sebelum tahun 2010). Atasannya bilang, ambil saja itu sudah menjadi hakmu. Tapi anak buah menolak, karena integritas lebih penting ketimbang uang kertas. Tapi apa yang terjadi? Sejak itu si pejabat muda sampai menjadi tua, tidak lagi berkembang kariernya alias masuk kotak!
Lihat saja fakta-fakta di lapangan. Pejabat yang gemar membangun citra agar nampak halus mulus bak buah kedondong, pada akhirnya malah banyak yang masuk LP Sukamiskin, Bandung. Mereka dikandangi KPK karena korupsi ini dan itu. Ironisnya ketika dikasih seragam oranye dan bertuliskan “tahanan KPK” sama sekali tak berwajah sendu, justru malah ngguya-ngguyu (tertawa).
Dalam pusaran kasus Gayus Tambunan tempo hari, pernah terungkap pula seorang pejabat Ditjen Pajak yang punya saldo di rekeningnya mencapai Rp 62 miliar, sementara lalulintas transaksi keuangannya mencapai Rp 932 miliar. Ketika kasus Gayus terendus, Kepala KPP (Kantor Pelayanan Pajak) itu mulai nervous. Seumur-umur beliaunya tak pernah menggelar pengajian di rumah, tapi sejak itu getol panggil ustadz-ustadz kondang. Tapi pada akhirnya oknum pejabat Pajak itu kena juga 12 tahun penjara.
Ada juga pejabat lain yang beberapa kali naik haji, sering menggelar pengajian di rumahnya dengan menghadirkan ustadz-ustadz televisi. Tapi saat istrinya meninggal dunia, naudzubillah min dzalik, karangan bunga yang datang sebagian besar justru dari kalangan pengusaha hiburan malam di Mangga Besar. Dari situ bisa dinilai, seperti apa kwalitas pejabat tersebut. Membangun citra tak pernah lowong, padahal kwalitasnya cuma buah kedondong! (Cantrik Metaram).





