Pelajar Makin Brutal, Menterinya Kemana?

Aksi-aksi kekerasan di dunia pendidikan termasuk yang berbasis agama (ponpes) sudah sangat mencemaskan. Belum ada greget,perhatian khusus atau kebijakan Mendikbud dan Iptek serta Menteri Agama untuk memitigasi dan mengantisipasi untuk mencegah kasus-kasus tersebut ke depannya.

SEKOLAH atau lingkungan pendidikan, apalagi yang berbasis agama seperti pesantren, mestinya steril dari aksi-aksi kriminalitas dan pelanggaran moral, baik oleh siswa sebagai anak didik atau (oknum) guru-gurunya yang memiliki relasi kuasa.

Namun fakta yang terjadi di negeri ini kebalikannya, modus-modus kejahatan seperti aksi kekerasan, terutama kejahatan seksual, pembulian dan penganiayaan terjadi bak “fenomena gunung es” di tengah simbul-simbul peradaban normatif di lingkup pendidikan.

Di ruang publik, termasuk di ibukota, Jakarta yang merupakan etalase negara, tak henti-hentinya tawuran antarpelajar tanpa ada sebabnya, begitu pula di Yogyakarta yang notabene adalah kota pelajar, ada aksi-aksi “klitih”, sebagian pelakunya siswa sekolah yang mencari korban untuk dianiaya secara acak di jalan-jalan, begitu pula aksi-aksi kriminalitas oleh gang motor yang pelakunya juga sebagian pelajar.

Contoh teranyar, sekelompok siswa berseragam Pramuka yang berkonvoi dengan sepeda motor, salah satunya yang tertangkap medsos bermomor polisi T3350 BIC atau dari wilayah Purwakarta, Jawa Barat,  menganiaya seorang nenek di tepi jalan (19/11).

Entah apa penyebabnya, beberapa diantara remaja tersebut menanyai sang nenek renta itu, lalu salah seorang menendangnya hingga terjungkal. Nenek malang itu pun lari menghindar dengan ketakutan.

Mungkin kejadian itu hanya bisa ditunjukkan oleh orang berperilaku menyimpang atau tidak waras, karena para remaja itu pun sambil tertawa-tawa puas, melanjutkan berkonvoi seolah-olah tak terjadi apa-apa.

Sementera itu, Pengadilan Negeri Surabaya menjatuhkan vonis tujuh tahun terhadap Muhammad Suchi Azal Tsani (42) alias Mas Bechi, putera pemilik Ponpes Assidiqiyah, Jombang dalam kasus perkosaan dan pencabulan terhadap sejumlah santriwati di bawah umur.

Kasus ini yang diadukan ke polisi pada 2019 terkatung-katung diduga karena pengaruh kedudukan korban dan ayahnya sebagai orang terpandang, bahkan polisi mengerahkan puluhan anggotanya untuk menjemput paksa terdakwa karena dihalang-halangi oleh orang tua dan para pendukungnya.

Ustadz Biadab di Bandung

Sedangkan guru atau ustadz di sebuah Ponpes di Kab. Bandung, Herry Wirawan divonis hukuman mati plus kebiri kimia dan denda Rp500 juta oleh Pengadilan Tinggi setempat akibat perbuatan biadabnya memperkosa 13 santri binaannya .

Dengan memanfaatkan simbul-simbul agama, Herry leluasa melakukan aksi bejatnya secara sistematis dan terus menerus selama bertahun-tahun, bahkan tiga santriwati melahirkan bayi-bayi akibat perbuatannya.

Bisa dibayangkan, trauma dan kerusakan psikis para santriwati yang rata-rata dari keluarga ekonomi kelas bawah itu, nasib mereka ke depan dan juga bayi-bayi yang dilahirkan akibat perbuatan bejat Herry.

Kasus-kasus pelecehan seksual juga terjadi di sejumlah pesantren dan mungkin banyak kasus lagi yang tak terungkap mengingat relasi kuasa para pengelola dan ustadz atau pengajar di Ponpes terhadap santri-santrinya.

Tidak jelas pula, apa kebijakan atau tindakan menteri Agama untuk mencegah agar kasus-kasus pelecehan seksual tidak terjadi lagi di ponpes-ponpes yang jumlahnya sekitar 33.000-an.

Apa ada tindakan terstruktur, massif dan terpola agar para santriwati aman dari aksi-aksi bejat para predator yang notabene adalah guru-guru atau pengelola Ponpes yang harus mereka hormati?.

Terlalu banyak contoh kasus-kasus keranas seksual di lingkup sekolah termasuk ponpes, antara lain yang viral, pemukulan terhadap siswi kelas V di SMA di Pinrang Sulsel (13/5 oleh pelaku (SI) yang juga teman sekelasnya.

Yang tak kalah biadabnya, pemaksaan menyetubuhi kucing pada PH, siswa kelas VI SD di Tasikmalaya, Jawa Barat oleh teman-reman sekelasnya, sehingga bocah malang itu meninggal akibat stress setelah adegan terkutuk tersebut direkam dan disebarluaskan pelaku.

Pengamat pendidikan Indra Charismiadji menilai, tiga unsur utama pendidikan yakni sekolah, orang tua dan masyarakat di negeri ini gagal mengemban fungsinya masing masing terkait maraknya aksi kekerasan termasuk seksual di lingkup pendidikan.

Tidak pernah ada komentar, greget atau perhatian dari Mendikbud dan Ristek Nadiem Anwar Makarim, apalagi aksi terpola, terstruktur dan antisipatif untuk mencegah kasus-kasus kekerasan di lingkup pendidikan termasuk siswa atau guru yang menjadi pelakunya.

Kemana saja Mas Menteri Nadiem dan Menag Yaqut Cholil Qoumas? Akan dibawa kemana anak didik serta dunia pendidikan negeri ini ?