SEJAK Nopember 2016 lalu PBSI (Persatuan Bulutangkis Seluruh Indonesia) berganti nakoda, dari Gita Wiryawan kepada Wiranto, untuk priode 2016-2020. Beberapa bulan jadi Ketum, sosok yang juga Menko Polhukam pada Kabinet Kerjanya Presiden Jokowi itu tergelitik untuk merenovasi gedung Pelatnas PBSI yang terletak di Kelurahan/Kecamatan Cipayung Jakarta Timur. Kondisi bangunan itu memang sudah mengenaskan, baik lokasi maupun kondisi.
Purnawirawan jenderal itu terpilih jadi Ketum PBSI secara aklamasi, karena Ketum lama, Gita Wiryawan yang mantan Menteri Perdagangan era kabinet SBY, tiba-tiba mengundurkan diri. Wiranto pun tidak berkeberatan, karena Presiden Jokowi selaku boss telah mengizinkan. Semoga saja, di bawah kepemimpinan Panglima TNI era Pak Harto ini pamor olahraga pukul-memukul bulu menthok (itik) ini semakin berjaya.
Yang menarik di Indonesia ini, cabang olahraga apapun selalu mencari Ketua Umum yang tokoh pengusaha atau pejabat tinggi negara kelas menteri. Entah apa yang mau diraihnya, entah tongkrongannya atawa isi perkantongannya. Yang paling memprihatinkan, kadang hanya tokoh pengusaha merangkap politisi parpol elit, ngotot jadi Ketum. Disebut ngotot, sebab meski sudah jadi napi kasus korupsi, masih juga tak mau melepaskan jabatannya. Ironisnya, Menporanya diam saja, tak bisa berbuat apa-apa.
Menpora sekarang, Imam Nakhrowi, memang tidak seperti itu. Ketika bursa calon Ketum PBSI mulai ramai, dia telah mengingatkan agar Ketum cabang olahraga apapun jangan rangkap jabatan, sebab akan bikin tugas jadi kedodoran. Itu sangat masuk akal. Sebab cabang olahraga itu oleh Ketum akan dijadikan sekedar bini kedua. Beda dengan rumahtangga, bini kedua justru mendapat prioritas utama, meski sekedar untuk medan “olahraga”.
Di bawah kepemimpinan Wiranto, diyakini PBSI takkan menjadi “bini kedua”. Buktinya, dia sudah berencana segera merenovasi gedung Pelatnas-nya yang kondisinya sudah memprihatinkan. Maklum, sejak berdiri tahun 1992 hingga kini belum pernah diperbaiki. Seperti telah disebut di atas, Pelatnas PBSI ini tak sekedar memprihatinkan kondisi, tapi juga lokasi.
Pelatnas PBSI itu kawah Candradimuka-nya para atlet bulutangkis kita. Mereka yang telah digembleng di situ, berhasil mengharumkan nama bangsa lewat pukulan raket ke bulu-bulu menthok. Sayangnya, katanya “kawah Condrodimuka” tapi lokasinya “ndhelik” (tersembunyi) di ujung DKI Jakarta. Bahkan jalan masuknya pun, seperti jalan tikus! Sungguh bikin malu.
Pelatnas dibangun tahun 1992 di zaman Ketum PBSI Try Sutrisno. Tanahnya pun sekedar merk “kasio” (dikasih orang). Jadi meski lokasinya tersembunyi “di ujung dunia”, namanya juga hanya dikasih. Sejak dibangun hingga sekarang, pintu masuk ke lokasi, sungguh memprihatinkan. Dari jalan raya Cipayung hingga Jalan Pelatnas PBSI (Kaveling DKI) masih lumayan, lebar jalannya 10 meter. Tapi setelah masuk wilayah RW 01 menuju ke Pelatnas, sempit seperti jalan tikus, mobil papasan saja tidak bisa.
Herannya, dari jaman Ketum Try Sutrisno, berlanjut ke Suryadi, Subagyo HS, Chairul Tanjung, Sutiyoso, Djoko Santosa, hingga Gita Wiryawan; semuanya tak kepikiran, bagaimana supaya Pelatnas PBSI itu jadi bergengsi. Harapan besar sekarang tinggal kepada Ketum yang baru. Sekalian merenovasi gedung, seyoganya Wiranto juga memikirkan pelebaran jalan akses ke lokasi. Paling tidak kelebaran jalan bisa dibikin sama dengan Jalan di Kaveling DKI. Soal dana pembebasan, bukankah anggaran Kemenpora cukup besar? Saat Rio Haryanto di Formula-1 Barcelona, Menpora bela-belain keluarkan dana APBN Rp 100 miliar.
Pihak RW 08 Cipayung yang jadi “pintu gerbang” Pelatnas PBSI, pernah mengusulkan agar trotoar Jalan Pelatnas PBSI berikut gapuranya dibangun pihak PBSI. Tapi usulan sejak “dinasti Ming” itu hingga kini tak pernah direspon pengelola. Jadilah gapura berikut jalan masuk ke Pelatnas terus bikin malu. (Cantrik Metaram).





