
DEADLINE atau sisa tenggat waktu perkiraan stok oksigen di kapal selam KRI Nanggala 402 habis, Sabtu pukul 03.00 WITA dinihari (24/4) kian mendekat dan sampai Jumat siang baru ada tanda dugaan titik lokasinya terendus.
Secercah asa muncul saat KASAL Laksamana TNI Judo Margono mengungkapkan, magnetometer salah satu tim kapal penyelamat, penyapu ranjau KRI Rimau 724 mencatat medan magnit tinggi pada kedalaman 50 sampai 100 meter.
Namun tentu saja, operasi penyelamatan KRI Nanggala masih jauh dari sasaran, karena jika titik lokasi kapal sudah dipastikan pun, upaya mengevakuasi awak kapal bukan pekerjaan mudah dan harus menanti kehadiran kapal-kapal yang memiliki peralatan untuk itu.
Sampai tulisan ini diturunkan, lalu diupdated, Sabtu pagi (24/4) pukul 07.10 WIB atau saat persediaan oksigen diperkirakan sudah habis, belum ada kepastian tentang titik posisi KRI Nanggala.
Kapal penyelamat milik AL Singapura MV Swift dilengkapi alat penyelamat kapal selam (Submarine Support and Rescue Vehicle – SSRV) DSAR 6 dijadwalkan baru tiba di lokasi, Sabtu pagi. Mudah-mudahan masih terkejar untuk menyelamatkan 53 awak KRI Nanggala.
MV Swift berbobot 4.290 ton, panjang 85 meter, lebar 18,3 meter dan 27 awak memiliki ruang pemindahan di bawah tekanan air (Transfer Under Pressure – TUV), ruang rawat untuk 40 korban kecelakaan bawah air serta sistem navigasi dan pelacakan terintegrasi.
DSAR 6 akan diterjunkan dengan kendaraan bawah air yang dioperasikan dari jauh (Remotely Operated Underwater Vechicle – ROV), lalu menempel pada kapal selam yang mengalami kecelakaan dan dengan peralatan khusus, mengevakuasi awaknya.
Dengan kapasitas 17 penumpang, DSAR 6 akan melakukan tiga kali misi ulang alik untuk memindahkan 53 awak KRI Nanggala ke kapal MV Swift. Kelebihan beban dua orang mungkin tidak masalah.
Tentu syaratnya, oksigen di KRI Nanggala masih mengalir sehingga para awaknya masih bisa bertahan dan kapal itu masih melayang di bawah permukaan laut, tidak menghunjam di dasar palung laut pada kedalaman sampai 700 meter di sekitar lokasi bencana.
Sementara AL Diraja Malaysia (TLDM) mengirimkan kapal MV Mega Bhakti berkemampuan Evakuasi dan Penyelamatan Kapal Selam (Submaine Escape and Rescue Intervention) berbobot 1.960 ton , panjang 80 m, lebar 17 meter dan diawaki 57 orang.
Kapal ini juga memiliki kendaraan bawah air (ROV) untuk memasang sistem ventilator dan mengurangi tekanan udara di kapal selam (Distresses Submarine Ventilation Deppresurrized System) dan berbagai alat penginderaan bawah air. Namun yang membuat cemas, kapal ini diperkirakan baru tiba di lokasi, Minggu pagi (25/4).
AL Australia kabarnya jga mengirimkan fregat HMAS Ballarat dan kapal tanker HMAS Sirius, sedangkan Amerika Serikat mengirimkan pesawat surveillance P-8 Poseidon yang biasa digunakan sebagai pemburu kapal selam.
Seperti diinstruksikan Presiden Jokowi, TNI mengerahkan seluruh kekuatannya termasuk dua kapal selam tersisa yang dimiliki yakni KRI Nagapasa 403 dan KRI Ardadedali 404.
Saudara kembar KR Nanggala yakni KRI Cakra 401 masih dioverhaul di Korea Selatan, sedangkan KRI Alugoro 405 masih dalam uji coba oleh PT PAL.
Paling tidak ada 21 kapal perang dan 400 personil tambahan termasuk kapal RS dr Soeharso, fregat KRI I Gusti Ngurah Raid dan KRI RE Martadinata, korvet KRI Diponegoro dan kapal survei KRI Rigel serta sejumlah kapal patroli cepat dan kapal-kapal polisi dan Basarnas.
Kapal-kapal tersebut dengan sonar masing-masing diharapkan dapat menemukan titik lokasi KRI Nanggala, sementara KRI Rigel juga dilengkapi ROV yang pernah digunakan pencarian pesawat Sriwijaya SJ-182 di perairan P. Seribu, Januari lalu.
Beli 12 Kapal Selam lagi
TNI-AL sendiri sejauh ini merencanakan pembelian 12 kapal selam lagi untuk memenuhi standar minimum kekuatan pokok (minimal essential force – MEF) untuk menambah lima unit yang sudah ada dan menggantikan dua unit yang sudah terlalu tua (KRI Cakra dan KRI Nanggala).
Yang disayangkan, dalam rapat-rapat kerja dengan Komisi I DPR yang membidangi pertahanan atau dari pernyataan-pernyataan petinggi TNI atau pengamat militer, tidak pernah disinggung rencana pembelian kapal penyelamat bawah air.
Bandingkan dengan negara jiran Singapura dan Malaysia yang memiliki lebih sedikit armada kapal selam (masing-masing dua dan empat unit) sudah memiliki kapal penyelamat kapal selam atau kecelakaan di bawah permukaan laut.
Padahal, TNI pernah mengalami pengalaman buruk saat terpaksa memborong alutsista Uni Soviet berupa kapal penjelajah kelas Sverdov, KRI Irian, 11 kapal selam tipe Whiskey dan puluhan pesawat tempur MiG15, MiG-17, MiG-19, MiG-21 dan pembom TU-16 pada awal ’60-an saat kampanye Trikora.
Dalam beberapa tahun alutsita tersebut mangkrak karena buruknya perawatan, apalagi pengiriman spare parts oleh Uni Soviet terhenti pasca G30S.
Ironis lagi dengan KRI Irian yang hanya digunakan dua tahun, pada 1962 dibawa lagi ke Soviet untuk diperbaiki, mengalami kerusakan berat, karena menurut para teknisi Soviet, perbaikan-perbaikan kecil pun tidak dilakukan selama dioperasikan oleh TNI-AL.
Bisa dimaklumi, pangkalan untuk kapal dan para awaknya pun tidak disiapkan dengan baik saat itu, apalagi perawatan yang memerlukan dana besar, juga keahlian yang belum sepenuhnya dikuasai SDM TNI.
Untuk ke depannya, perlu perencanaan yang baik bagi setiap pembelian alutsista, khususnya kapal, karena selain Maintenance, Repair dan Overhaul (MRO), kapal-kapal atau alat penyelamat juga harus difikirkan. Jika tidak, selain kehilangan asset, nyawa taruhannya.
Indonesia sebagai negara maritim dengan laut yang begitu luas, sepantasnya memiliki armada laut yang disegani termasuk mumpuni melakukan operasi penyelamatan terhadap kapal-kapal dan awaknya yang mengalami kecelakaan.
Kembali ke KRI Nanggala. Semoga Allah menurunkan mukjizatnya. Agar titik posisi kapal segera dipastikan dan bantuan untuk mengevakuasi seluruh awak tiba di lokasi menjelang menit-menit terakhir. (wikipedia/ns)




