
POLISI berhasil mencokok lima anggota komplotan internasional pembobol ATM (16/3), namun diperkirakan kelompok-kelompok lain masih berkeliaran mencari mangsa mengingat semakin masifnya aksi kejahatan perbankan tersebut akhir-akhir ini.
Tersangka kejahatan perbankan dengan modus “skimming” ATM yakni ASC, IRI dan LNM berkebangsaan Rumania yang dibekuk di Tangerang Selatan (16/3) serta FH yang berkebangsaan Hongaria dan MK, warga Bandung yang dibekuk di Lombok.
Sindikat penjahat berhasil meraup milyaran rupiah dari ATM di sejumlah kota a.l. di Denpasar, Lombok, Bandung, Jakarta, Tengerang dan Yogyakarta.
Soal besar-kecilnya nilai uang yang dibobol, tentu saja dampaknya berbeda bagi korban. Walau cuma bernilai puluhan ribu atau ratusan ribu rupiah saja, jika korbannya seorang ASN rendahan yang jujur dan tidak korup dan kejadiannya pada “tanggal tua”, tentu sakitnya terasa di “sini”.
Direktur Reserse Polda Metro Jaya Kombes Nico Afinta di Jakarta, Sabtu (17/3) mengimbau masyarakat untuk berhati-hati saat mengunakan ATM agar terhindar dari kejahatan perbankan dengan modus skimming yakni dengan perangkat perekam data yang dipasang di ATM.
Dari tersangka, disita 1.480 kartu ATM yang telah diisi dengan data curian berasal dari 64 bank di 21 negara, paling banyak dari Indonesia yakni 1.314 kartu dari 13 bank, selebihnya dari bank di Australia, AS dan Inggeris selain alat untuk bantu kejahatan seperti pembuka data nasabah, hard disc, bor listrik, solder dan kamera mini.
Sebelumnya tercatat 84 korban 33 diantaranya dari cabang BRI Ngadiluwih, Kab.Kediri, Jatim dan 51 lainnya dari cabang BRI Purwokerto, Jateng.
Nasabah bank BRI Unit Ngadiluwih melaporkan kehilangan uang tabungannya secara misterius tiba-tiba menyusut dengan variasi antara Rp 500.000, Rp 4 juta, bahkan ada juga yang mencapai Rp 10 juta.
Saldo berkurang
Kasus pembobolan ATM terungkap berkat laporan nasabah bank yang berkurang saldonya, padahal mereka tidak melakukan penarikan uang, kemudian pihak bank melaporkannya pada kepolisian.
Kelima anggota sindikat yang berhasil dicokok polisi mengaku telah beroperasi di Indonesia dengan menggunakan visa turis sejak Oktober 2017.
Sindikat mereka terdiri dari kelompok penyedia peralatan yang berada di luar negeri, kelompok pencari ATM yang dijadikan sasaran sekaligus pemasang peralatan di ATM serta kelompok yang bertugas mengambil dan mentransfer uang.
Aksi pembobolan ATM dilakukan dengan merekam data nasabah dengan kamera mini yang dipasang di tudung papan tombol ATM, sedangkan alat perekam data dipasang di dalam lubang gesek ATM.
Pengguna ATM tidak sadar datanya telah direkam dengan alat yang dipasang hanya dalam hitungan menit oleh komplotan pelaku.
Untuk itu, pengguna ATM diminta menutup tangan saat memasukkan PIN ke ATM, mengganti PIN sesering mungkin, memilih ATM di lokasi keramaian, yang dijaga petugas sekuriti atau meminta sistem kartu chip pada bank bersangkutan.
Warga hendaknya juga melaporkan ke pos polisi terdeka jika melihat orang mencurigakan dan berlama-lama di ATM, karena hanya diperlukan waktu dalam bilangan menit untuk melakukan transaksi di ATM.
Bank Indonesia sendiri, seperti disampaikan oleh Eva Aderia (Kompas, 17/3) dari Bagian Surveillance dan Sistem keuangan berjanji akan bekerjasama dan mengusut tuntas kasus-kasus pembobolan ATM dan menjamin akan memberikan ganti rugi bagi nasabah ang dirugikan.
Teknologi terus berkembang, hingga bisa dimanfaatkan orang untuk melakukan cara-cara curang guna mendapatkan uang dengan merugikan orang lain. Waspadalah! (nanangs)




