
IRONIS, jumlah penduduk dunia yang menghadapi rawan pangan meningkat dari 135 juta menjadi 276 juta orang dalam dua tahun terakhir ini, sebaliknya, jumlah makanan yang tidak dikonsumsi atau terbuang secara global mencapai satu miliar ton per tahun.
Pada pertemuan di Mabes PBB di New Yorks City, Sekjen PBB Antonio Guterres, Rabu (18/5) mengingatkan, jika krisis pangan global terus dibiarkan, malnutrisi atau kekurangan pangan bakal terus terjadi bertahun-tahun ke depan.
Selain akibat perubahan iklim, pandemi Covid-19 yang sudah memasuki tahun ke-3 dan kini perang antara Rusia dan Ukraina sejak invasi Rusia 24 Feb. lalu serta ketimpangan akses, berkontribusi bagi kerawanan ekstrim bahan pangan di berbagai belahan dunia.
Kepala Bantuan Pangan PBB Martin Griffith di Jenewa, April lalu memperkirakan, sejumlah negara di Afrika seperti Kenya, Ethiopia dan Somalia menghadapi kekeringan parah.
Laporan Global Krisis Pangan (Global Report on Food Crisis – GRFC) mengungkapkan, 193 juta penduduk yang tersebar di 53 negara mengalami kerawanan pangan akut, sehingga kebutuhan pangannya mendesak.
Bahkan di seluruh wilayah Afrika, kasus kerawanan pangan sedanga melonjak dan diujung tanduk benua hitam itu, dua juta anak berisiko mati kelaparan.
Sementara di tengah tingginya angka kelaparan, konflik Rusia dan Ukraina, menurut Guterres, berkontribusi memperparah kerawanan pangan global menuju ke titik puncak baru, karena ditutupnya pelabuhan di Laut Hitam sehingga ekspor bahan pangan seperti gandum stop.
Pemborosan Makanan
Mengacu pada data konsumsi makanan BPS, Harian Kompas dalam laporan yang dimuat (19/5) menyebutkan, tiap penduduk Indonesia di 199 kabupaten/kota melakukan pemborosan makanan sekitar Rp2,14 juta per tahun ata totalnya sekitar Rp330,7 triliun per tahun.
Angka tersebut masih dalam rentang hasil kalkulasi Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) 2021 yang menyebutkan, besaran kehilangan ekonomi Indonesia akibat sampah pangan beriilai antara Rp213 sampai Rp551 triliun atau mencapai seperempat nilai  APBN (sekitar Rp2.003. triliun).
Pada 2020 terdapat 199 dari 514 kabupaten atau kota yang melaporkan data komposisi sampah di SIPN, sehingga diperkirakan, nilai pemborosan makanan di Indonesia bisa lebih parah dari yang terungkap data.
Di Jakarta saja, timbunan sampah tahunan 2,1 juta ton lebih atau sekitar 69,7 persen dari total timbunan sampah, jika ditumpuk mengerucut dengan radius lingkaran 147 meter (diameter 294 meter) setinggi 514 meter.
Bandingkan dengan menara Monas saja tingginya Cuma 132 meter dan gedung tertinggi di Jakarta, Gamma Tower 285,5 meter.
Dari data-data tersebut, menurut catatan Barilla Center for Food and Nutrition,nilai indeks kehilangan dan kemubaziran pangan Indonesia masuk kategori buruk yakni 300 Kg per orang atau peringkat tiga negara terburuk selain Arab Saudi dan Uni Emirat Arab.
Mubaizir dalam pemanfaatan pangan adalah perbuatan yang tidak disukai Allah, apalagi di tengah banyak orang lain yang masih menghadapi kelaparan atau rawan pangan.




