Pemenang Pemilu Thailand Gagal jadi PM

Masa pendukung Ketum Partai MFP Pita Limjaroenrat berunjuk rasa karena partai peraih suara terbanyak di pemilu tersebut disingkirkan oleh mitra koalisinya sehingga gagal menduduki kursi PM Thailand.

KETUM Partai Bergerak Maju (MFP) Thailand Pita Limjaeroenrat terancam gagal menjabat perdana menteri karena partainya yang meraih suara tertinggi Pemilu disingkirkan dari mitra-mitra koalisinya.

Mitra koalisi MFP yakni Pheu Thai (Thailand Baru) yang meraih suara kedua terbanyak, seperti diumumkan oleh ketuanya, Chonlanan Srikaew (2/8) akan mencari mitra koalisi baru untuk mengajukan calon perdana menteri pada pemungutan suara di parlemen.

Hubungan antara MFP dengan tujuh mitra koalisinya ambruk akibat kegagalan Pita memperoleh suara terbanyak di parlemen, hanya mampu mengumpulkan 324 dari 375 minimal suara yang dibutuhkan.

Keinginan Pita untuk mengubah Undang-Undang Lesse Majeste atau pasal 112 konstitusi Thailand yang memuat perlindungan bagi anggota kerajaan Thailand dari penghinaan dan pengancaman menjadi alasan utama penyingkiran MFP dari koalisi terdiri dari delapan parpol.

Pimpinan Pheu Thai menyatakan, pihaknya sudah melakukan apa yang bisa dilakukan untuk menyokong Pita, namun semua berujung jalan buntu sehingga partainya akan mencari aliansi baru agar bisa membentuk pemerintahan.

Sebaliknya, para kader dan pendukung Pita dengan mengusung potret pemimpinnya,  melakukan unjuk rasa di di depan markas besar Pheu Thai Bangkok, Rabu (2/8) mengecam keputusan Pheu Thai dan mitra koalisi lain menyingkirkan MFP.

Pheu Thai saat ini dilaporkan sedang berusaha mengisi 151 kursi yang ditinggalkan MFP dengan melakukan pendekatan pada sejumlah partai yang sebelumnya berseberangan.

Koalisi tersebut terdiri dari 10 pertai termasuk empat partai lama yang tergabung dalam kelompok oposisi (Partai Prachachat, Pheu Thai Ruam Palang, Sri Ruam Thai dan Plum Sungkom Mai) serta lima baru: Bhumjathai, Partai Palang Pracharat, Partai Demokrat, Partai Chartthaipattana dan Partai Chartpattanakla.

Pergulatan politik masih berlangsung di negeri Gajah Perang itu dan hasilnya masih dinanti. (AP/AFP/Reuters/ns).

 

 

Advertisement