JAKARTA (KBK)— Jumlah tenaga kerja Indonesia yang bekerja di luar negeri cukup besar. Namun sayangnya, kompetensi mereka masih lebih banyak di sektor informal atau asisten rumah tangga. Anggota Komisi IX DPR RI Bidang Ketenagakerjaan Ahmad Zainuddin menilai, hal tersebut justru mencitrakan Indonesia sebagai negara dengan pasar tenaga kerja informal.
“Kementerian Tenaga Kerja perlu berkoordinasi dengan Kementerian Pendidikan untuk mengupgrade kompetensi tenaga kerja kita. Karena TKI kita di luar negeri hanya laku di sektor informal. Sedangkan sektor formal, pasar luar negeri melirik negara lain,” ujar Zainuddin dalam siaran pers yang diterima KBK, Kamis (1/8) malam.
Zainuddin mengatakan, tingkat pengangguran terbuka di Indonesia saat ini cukup besar. Umumnya pengangguran ini merupakan lulusan sekolah kejuruan atau vokasi. Sementara anggaran pendidikan di Kementerian Pendidikan cukup besar untuk pengembangan kompetensi.
“Saya kira ini bisa dikoordinasikan. Misal dengan membuat pilot project sekolah khusus vokasi bagi TKI kita yang akan ke luar negeri. Sehingga tidak melulu sebagian besar sebagai pekerja informal, tapi juga menguasai sektor formal,” imbuh politisi PKS asal dapil Jakarta Timur ini.
Sebab jika kualitas kompetensi vokasi tidak diupgrade, lanjut Zainuddin, tenaga kerja Indonesia akan makin sulit bersaing dengan tenaga kerja asing di luar negeri.
“Jangankan di luar negeri, di Tanah Air juga akan sulit bersaing dengan tenaga kerja asing yang membanjiri pasar dalam negeri. Ini era persaingan pasar bebas,” pungkas Zainuddin.
Hal ini sejalan dengan rencana program pemerintah untuk meningkatkan pengiriman TKI sektor formal ke luar negeri. Jumlah WNI yang tinggal di luar negeri diperkirakan mencapai lebih dari 4 juta orang, di mana lebih dari separuhnya adalah tenaga kerja Indonesia.





