Pemimpin Visioner

Saudaraku, pemimpin visioner- transformatif itu memiliki kemampuan mendidik dirinya sebelum mendidik orang lain; berjejak pada akar tradisi seraya terbuka pada praktek-praktek terbaik dari mana pun; bisa mengembangkan sistem kepemimpinan yang kuat dengan komitmen besar pada pembangunan kualitas manusia.

Hal itu tersimpul dalam buku Culture: A New World History, karya Martin Puchner (2023).

Jika menengok sejarah peradaban, dunia mengenal sejumlah sosok pemimpin teladan seperti itu. Dalam dunia Kristen, keteladanan itu ditunjukkan oleh Karolus Agung (Charlemagne), raja kaum Frank yg pada tahun 800 dinobatkan oleh Paus Leo III sebagai Imperator Augustus, yang menjadikannya pendiri Kekaisaran Romawi Suci dan dianggap sebagai Bapak pendiri Eropa.

Sebagai kaisar, Karolus Agung memproklamasikan misi kebangkitan kembali Romawi dari kejatuhannya melalui pengembangan ilmu pengetahuan dan seni lewat pembaruan produksi kepustakaan dan dunia pendidikan. Misi tersebut harus dimulai dengan mendidik dirinya terlebih dahulu.

Sebagai orang yg boleh dikatakan buta huruf, ia mulai menjalani proses belajar baca-tulis. Karena usianya yg telah lanjut, Sang Kaisar sangat frustrasi tak kunjung memiliki keterampilan menulis. Namun, setidaknya ia berkemampuan untuk membaca (Latin), sehingga bisa mengakses secara parsial dunia pustaka yang dipromosikannya.

Sang Kaisar juga mensponsori sebuah sekolah di istana ibukota kekaisaran, Aachen, dgn mengembangkan pendidikan liberal arts. Dengan demikian, kendati Karolus Agung hanya sedikit terpelajar, namun di bawah kekuasaannya terwujud kebangkitan seni dan ilmu pengetahuan yang dikenal sebagai Renaisans Karolingia.

Dalam dunia Islam, keteladanan seperti itu ditunjukkan oleh Khalifah Al-Ma’mun. Dalam memimpin kekhalifahan di Baghdad (813-833), Sang Khalifah bukan hanya melanjutkan revolusi lumbung pangan yang dirintis pendahulunya, tetapi juga menjadikan Baghdad sebagai lumbung informasi dan pengetahuan (Bait al-Hikmah).

Al-Ma’mun seorang pemimpin melek huruf dengan terus mendidik dirinya dalam budaya baca dan keterbukaannya untuk meraih ilmu dari sumber mana pun, sampai-sampai mengaku pernah mimpi bersua dengan Aristoteles.

Advertisement

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here