Pemulung Manfaatkan Gas Sampah untuk Memasak

Ilustrasi pemanfaatan gas metan dari sampah/ Kompas.com

TEMANGGUNG – Para pemulung sampah di tempat pembuangan akhir (TPA) sampah di Desa Sanggrahan, Kecamatan Kranggan, Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah memanfaatkan tumpukan sampah menjadi gas metan yang dapat digunakan untuk memasak tanpa menggunakan gas elpiji.

Seorang pemulung warga Dusun Losari, Tuyar (29) mengatakan untuk sekadar merebus air atau merebus singkong di TPA ini tidak usah memikirkan bahan bakarnya, karena di sini kompor bisa menyala terus dengan menggunakan gas metan yang dihasilkan dari tumpukan sampah di TPA ini.

“Kami bebas menggunakan kompor, sewaktu-waktu kami bisa merebus air tanpa harus membeli bahan bakar,” ucapnya, seperti dilansir Antara, Minggu (30/10/2016).

Ia mengatakan pemanfaatan gas metan untuk menyalakan kompor ini sangat membantu pemulung untuk sekadar menikmati minum teh atau kopi saat istirahat.

“Pendapatan kami hanya pas-pasan, sehingga kompor dengan bahan bakar gas metan ini sangat bermanfaat,” ujar bapak dari satu orang anak ini.

Dikatakannya, rata-rata sehari ia bisa mengumpulkan 20 kilogram sampah plastik. Setiap kilogram sampah plastik dihargai Rp500 oleh pengumpul.

“Kalau kerja dari pagi hingga sore hari minimal kami dapat Rp10 ribu dari hasil menjual plastik sampah,” ucapnya, lirih.

Adapun gas metan di TPA tersebut juga disalurkan melalui pipa paralon ke dapur kantor admnistrasi TPA yang terletak di bagian atas atau sisi timur TPA.

Pengawas dan operator TPA Sanggrahan Yiliatno mengatakan pemanfaatan gas metan di TPA ini mulai tahun 2014, setelah salah satu pegawai Dinas Pekerjaan Umum Kabupaten Temanggung mendapat pelatihan di provinsi.

“Waktu itu kami diberi oleh-oleh berupa ‘compact disc’ (CD) yang berisi cara pemanfaatan gas metan di sebuah TPA, kemudian kami praktikkan di sini dengan cara sederhana dari bahan seadanya,” tuturnya.

Ia menjelaskan dari pipa yang ditanam di dalam tumpukan sampah kemudian di atasnya dimasukkan dalam drum sebagai penampung gas metan. Selanjutnya disambung dengan pipa paralon lagi untuk disalurkan ke kompor.

Menurut dia, di TPA ini terdapat 87 pemulung dan 10 petugas TPA. TPA seluas 3,1 hektare ini setiap hari mendapat pasokan sampah sekitar 200 meter kubik yang berasal dari sejumlah kota kecamatan di Temanggung, antara lain Kecamatan Temanggung, Parakan, dan Ngadireko.

Semula gas metan hanya dimanfaatkan di dapur kantor TPA saja, sekarang di lokasi barak pemulung juga dipasang kompor, meskipun hanya sekadar untuk merebus air.

Ia menuturkan selama ini pemanfaatan gas metan tersebut hanya digunakan untuk memenuhi kebutuhan bahan bakar di lingkungan TPA saja, karena kapasitasnya masih kecil.

Menurut dia keberadaan kompor dengan bahan bakar gas metan ini sangat membantu, minimal mengurangi biaya pengeluaran untuk membeli elpiji.

Penggunaan gas metan ini hanya membutuhkan perawatan pipa saluran, paling tidak empat hari sekali di setiap sambungan pipa harus dibersihkan dari endapan air karena dapat mengganggu kelancaran gas metan.

Advertisement