Pendidikan Karakter Lewat Buku SD

Buku-buku bacaan untuk anak Sekolah Rakyat tahun 1930-n hingga 1960-an.

MASA depan bangsa kini di tangan generasi muda berkelahiran seputar tahun 1970-an. Mereka adalah bekas anak-anak yang ketika di SD tidak lagi menerima pelajaran Budi Pekerti. Maka seorang tokoh pendidikan Jawa Tengah Dr Sudharto MA belum lama ini sampai berucap, “Merosotnya nilai-nilai budi pekerti di kalangan generasi muda, lebih dikarenakan kurang bersungguh-sungguhnya generasi tua dalam membangun generasi muda sesuai posisi dan perannya.”

            Ke mana saja para generasi tua, sehingga generasi muda yang luput pengajaran (salah didik)? Dr Sudharto MA kembali menjawab, “Generasi tua pada sibuk dengan kegaduhan politik, kebiasaan menerabas karier, hiruk pikuk sosial, perilaku negatif seperti praktik manipulasi, Kolusi Korupsi dan Nepotisme (KKN), perselingkuhan, jual beli narkoba, hingga jual beli jabatan.”

Jika menyimak paparan mantan Kakanwil Depdikbud Jateng ini, betapa kumuhnya perilaku para generasi tua kita. Mereka bukan lagi sebagai tuntunan, tapi malah jadi tontonan! Filosofi orang Jawa anak polah bapa kepradhah justru berbalik menjadi: bapa polah anak kepradhah (baca: anak jadi repot karena ulah orangtua).

Lalu mantan anggota DPD (2004-2009) asal Jateng itu memberikan resepnya. Untuk menyelamatkan generasi muda, caranya lewat pendidikan berbasis karakter. Ini model kurikulum dengan proses pendidikan yang tahapannya mengandung unsur pengembangan karakter positif bagi anak. Setiap langkah pembelajaran untuk mata pelajaran apapun wajib hukumnya memasukkan unsur karakter positif bagi murid.

Bertolak dari itulah, di zaman Mendikbud M. Nuh pendidikan karakter memperoleh porsi besar dalam Kurikulum 2013. Di zaman Orde Baru, pendidikan karakter melalui pelajaran Budi Pekerti di SD, tahun 1974 dihapuskan. Lalu diganti dengan Pendidikan Agama, Pendidikan Sejarah perjuangan Bangsa (PSPB), Pendidikan Moral Pancasila (PMP). Tapi hasilnya?  Sudah mendapat pendidikan moral Pancasila, ketika jadi pejabat tidak malu korupsi, jadi politisi licik dan tidak punya sportivitas.

Pendidikan karakter itu bisa dicapai melalui buku-buku bacaan. Maka buku-buku bacaan untuk SR (Sekolah Rakyat) dari tahun 1930-an hingga 1960-an sarat dengan pendidikan karakter. Beda sekali dengan buku-buku bacaan SD sekarang; penerbit asal cari untung sehingga melupakan pembinaan mental bagi anak didik.

April 2012 kalangan ibu-ibu di Jakarta Timur terkaget-kaget, karena buku bacaan anaknya tentang “Pendidikan Lingkungan Budaya” bercerita soal Bang Maman dari Kalipasir yang punya istri simpanan. Buku seperti ini bisa beredar karena geblegnya pihak pejabat Kemdiknas, penerbit dan pengarangnya. Mana mungkin anak SD sudah diperkenalkan dengan soal “istri simpanan” segala? Ini sama saja mengajari anak-anak agar nantinya mereka punya PIL dan WIL.

Sejak merdeka hingga tahun 1970-an, buku pelajaran dan bacaan SR/SD bisa seragam seluruh Indonesia. Anak Medan dan Surabaya, atau Makasar dan Bandung, semua pakai buku “Bahasaku” karya BM Nor dalam pelajaran Bahasa Indonesia. Begitu juga sejarah, semua pakai karangan Anwar Sanusi, dan Ilmu Hayat pastilah karya Engkun Subari. Bagaimana sekarang? Beda kecamatan sudah beda buku pegangan. Penerbit asal cari untung, siap menyogok pejabat Kemendiknas agar bukunya –yang tak bermutu– dipakai. Akibatnya, ketika jadi pejabat, banyaklah mereka yang rusak.

Buku SR tahun 1960-an sarat dengan pendidikan karakter. Sekedar contoh, buku “Buku Batjaan Baru” karya Reksosiswoio Cs (1952). Tentang sportivitas menulis di halaman 20-21: “Djanganlah kita bersifat pitjik pikiran ! Djanganlah kita karena iri hati menjangkal kemenangan orang ! Akuilah kemenangan lawan kita dengan kedjudjuran ! Sebab achirnjalah hanja satu pihak sadja jang akan beroleh kemenangan. Utjapkanlah selamat kepada lawan kita atas kemenangannja itu ! Kalau kita ada pada pihak jang menang, perlihatkanlah kegirangan kita! Tetapi djanganlah menjakitkan hati lawan, bahwa kita menang.” (Cantrik Metaram)

Advertisement