Mana Pendidikan Karakter?

Ilustrasi: Pendidikan karakter yang diajarkan di Sekolah Dasar.

DIAKUI atau tidak, kini semakin banyak anak bangsa yang kehilangan karakter. Maka ketika mereka dipercaya jadi pejabat, justru banyak yang mental korupnya yang banter (kuat). Jangankan pejabatnya, yang jadi rakyat biasa saja banyak yang terkena erosi karakter. Di Palembang baru saja kejadian. Ketika penjahatnya menyebar uang hasil rampokannya, konsentrasi pengejar terbelah. Lebih banyak yang pilih “menangkap” uang itu ketimbang perampoknya. Saat uang itu diselamatkan polisi, dari jumlah semula Rp 20 juta, tinggal Rp 9 juta. Di mana hasil pendidikan karakter untuk anak bangsa?

Pejabat dan pemimpin kita selalu mengatakan pentingnya pendidikan karakter bagi anak bangsa. Tapi jangankan yang rakyat biasa, sedangkan yang sudah duduk jadi pejabat saja, bisanya hanya ngomong doang! Karenanya dalam kehidupan sehari-hari, rakyat tetap asing dengan apa itu pendidikan karakter, dan mereka lebih akrab dengan karak, yakni kerupuk legendar yang gurih dan kemremes itu.

Di Palembang, Rabu (21/06) pekan lalu baru saja kejadian, betapa anak bangsa ini sudah kehilangan karakternya. Siang itu ada perampokan nasabah bank di Jl. R. Sukamto, 8 Ilir, depan PTC Mall. Pemilik mobil yang dirampok itu berteriak, dan massa pun berhamburan mengejar si penjahat ramai-ramai. Di sini karakter anak bangsa masih nampak terpelihara.

Tapi ketika perampok itu dari atas sepeda motornya lalu menyebarkan uang hasil rampokannya, massa pun terbelah. Ada yang terus memburu si perampok, tapi lebih banyak yang berubah pikiran memilih “menangkap” uang ratusan merah itu. Bahkan pengendara lain pun ikut-ikutan mengambil uang itu untuk diamankan ke dalam dompetnya dan menjadi hak milik pribadi.

Alhamdulillah perampok itu berhasil ditangkap. Bagaimana uang yang barusan disebar? Dari Rp 20 juta yang baru saja disebar, ternyata yang berhasil dikumpulkan polisi tinggal Rp 9 juta. Yang Rp 11 juta ke mana? Ya wasalamlah, karena itu dianggap “duit enak” tak bertuan. Tapi dari situ pula jadi ketahuan bahwa rakyat pada umumnya siap mengambil uang dan memiliki, tak peduli dari mana saja sumbernya.

Secara tak langsung itu merupakan ujian karakter anak bangsa. Tapi jangankan rakyat biasa, yang sudah jelas-jelas jadi pejabat pilihan negara, karakternya juga banyak yang tak teruji. Rakyat kecil hanya memungut uang 2-3 lembar ratusan merah di jalanan. Oknum pejabat, bahkan seorang gubernur, tega memungut komisi beberapa persen untuk proyek jalanan di wilayah provinsinya.

Di bulan Ramadan yang penuh berkah kemarin, Gubernur Bengkulu Ridwan Mukti bersama istrinya, ditangkap KPK lewat OTT. Selaian ditemukan uang suap, dari pemeriksaan ditemukan juga modus operandi bahwa setiap pembangunan proyek jalan di Provinsi Bengkulu, sang gubernur memungut  kepada sang kontraktor, 10 % dari nilai proyek. Jadi misalnya nilai proyek Rp 50 miliar, otomatis Rp 5 miliar masuk kantong gubernur setelah dipotong pajak. Luar biasa!

Pejabat negara yang kehilangan karakter bukan hanya Ridwan Mukti. Masih banyak pejabat dan politisi yang mengalami. Maka pemerintah sejak Mendikbud M. Nuh, Anies Baswedan hingga Muhadjir Effendy, berusaha mengejar karakter yang hilang itu melalui pendidikan karakter dalam pendidikan lewat SD hingga SMA.

Tapi ternyata, yang dilakukan M. Nuh dianggap tidak tepat oleh Anies. Anies yang baru “meraba-raba” digantikan oleh Muhadjir Effendy. Tapi ketika baliaunya mencoba menerapkan “Full Day School” dan “Sekolah 5 Hari” banyak kecaman dari sana sini, sehingga program Muhadjir pun menjadi mubazir. (Cantrik Metaram)

Advertisement