Penerus Umat Nabi Luth

Ilustrasi: Umat Nabi Luth di kota Sodom, tertimpa bala yang dikirimkan Allah Swt. (Hipwee)

 DUNIA semakin tua, tanda-tanda kiamat semakin dekat. Bukan hanya kata Dedy Mizwar dalam sinetron, tapi fakta di lapangan menunjukkan seperti itu. Yang lelaki berjiwa perempuan, yeng perempuan berjiwa lelaki. Akhirnya LGBT (Lesbia, Gay, Bisex dan Transgender) penerus umat Nabi Luth makin mewabah dan minta pengakuan. Klimaksnya terjadi kemarin malam, 141 gay ditangkap polisi di Jakarta Utara sedang pesta sex di Kelapa Gading. Dalam kondisi gidal-gidul (bugil) mereka kocar-kacir dari sergapan, karena kepergok bermain dengan teman sejenis di ruko berkedok fitness.

Dalam pandangan umum, memang aneh dan malah menjijikkan ketika lelaki bisa tertarik pada lelaki. Yang normal, perempuan tertarik pada lelaki, atau lelaki tertarik pada perempuan. Gejala ini merupakan proses manusia untuk memenuhi nalurinya, mempertahankan jenis seperti kata Sigmund Freud, ahli jiwa dari Jerman. Dalam Qur’an pun Allah berfirman, “Dia menciptakan untukmu istri-istri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya di antaramu rasa kasih dan sayang. (Surat Arrum 21).

Memang, sebagai makhluks sosial manusia akan merasa sial jika tak punya teman hidup sebagai pasangannya. Lelaki akan merasa jomblo tanpa wanita, dan wanita juga merasa jomblo tanpa lelaki. Maka agar mereka tidak bete, sampai-sampai gubernur DKI yang baru ini merasa perlu membentuk KJJ (Kartu Jakarta Jomblo), dan mereka diberi kebebasan berburu jodoh di RPTRA seluruh Jakarta.

Lelaki tertarik dan merasa serrrr ketika melihat belahan rok pramugari sebuah maskapai itu normal. Begitu pula perempuan menjadi empot-empotan jantungnya ketika ketemu pria ganteng dan santun, itu juga normal. Tapi kaum gay, justru sama sekali tidak tertarik pada mereka. Meski fisik lelaki, dia malah tertarik pada lelaki juga. Bagaimana mereka melampiaskan hasrat seksnya? Karena tak mungkin lingga ketemu yoni, maka lingga pun menghajar tetangga sebelah yoni. Bahasa kerennya: anal seks.

Kelainan seks semacam itu sudah terjadi pada zaman Nabi Luth, 1870 SM. Mereka tertarik pada sesama jenisnya. Lelaki tertarik pada lelaki, perempuan tertarik pada perempuan. Nabi Luth sudah mengingatkan agar umatnya kembali ke jalan yang benar. Tapi tak digubris, sehingga Allah Swt pun segera menurunkan bala. Dalam sekejap datanglah gempa bumi dahsyat dan angin kencang, serta hujan batu yang menghancurkan kota Sodom berserta semua penghuninya. Masyarakat kota Sodom pun dimusnahkan. (Surat Asy-Syuaraa 160-173).

Meski kejadian itu sudah 3.887 tahun lalu, generasi penerus umat Nabi Luth ternyata masih ada bahkan eksis. Di 30 negara bagian di AS, mereka dibolehkan melakukan pernikahan sejenis. Di Indonesia kaum gay juga berjuang memperoleh pengakuan. Tak hanya diakui keberadaannya, tapi juga diizinkan dalam perkawinan sejenis. Komnas HAM menolak usulan itu.

Jika mereka bisa berkahwin –begitu kata orang Malaysia– targetnya apa? Paling-paling sekedar cari enak, bukan untuk mendapatkan anak. Dalam kaca mata penggembala itik juga aneh, sesama jenis kok kawin, kayak bebek piaraannya saja. Dalam kalangan perbebekan, memang dikenal istilah gandok, yakni kawinnya antara bebek betina.

Hati-hati juga, LGBT ternyata juga bisa menjadi penyakit menular. Pernah terjadi di ibu kota, wartawati sebuah koran bikin reportase kehidupan kaum lesbi. Begitu mendalam liputannya, sampai-sampai dia sendiri ikut-ikutan kesetrom menjadi lesbi. Padahal dia juga cantik di kelasnya, tapi akhirnya menjadi wastra lungsed ing sampiran alias dianggurkan itu barang. (Cantrik Metaram)

Advertisement