Pengungsi Anak dan Wanita di Libya Rentan Mendapat Kekerasan

Para pengungsi di perbatasan. Foto: AP

LONDON – Unicef mengeluarkan data, bahwa wanita dan anak-anak yang mengungsi ke Eropa untuk menghindari konflik dan kemiskinan di Afrika mengalami pemukulan, pemerkosaan, dan kelaparan di Libya.
Laut Mediterania yang membentang antara Libya dan Italia menjadi jalur perlintasan utama bagi para pencari suaka dan migran yang ingin mencari kehidupan lebih baik di Eropa.
Jalur itu digunakan lantaran jalur laut dari Turki telah ditutup bagi para pengungsi. Sampai September 2016 sekira ribuan migran terdapat di Libya

Sebagian besar mereka tinggal di pusat-pusat penahanan yang kumuh dan rawan penyakit yang oleh UNICEF disebut sama seperti kamp kerja paksa dan penjara sementara.
Beberapa kelompok bersenjata secara efektif mengontrol pusat-pusat penahanan resmi bagi para migran tersebut.

”Grup-grup bersenjata juga mengelola pusat penahanan mereka sendiri, bersaing dan bekerja sama dengan geng-geng kriminal dan para penyelundup,”kata pengurus PBB Rabu (1/3) seperti diwartakan Reuters.
”Bagi ribuan perempuan dan anak-anak migran yang dipenjara itu, pusat-pusat penahanan itu merupakan lubang neraka tempat orang ditahan selama berbulan-bulan,” tambah laporan dari Unicef.
Sebagian besar ketika diwawancara  ,sebagian besar anak mengaku dipukuli orang dewasa sepanjang perjalanan dan perempuan mengalami lebih banyak pelecehan dibandingkan pria. ”Di pusat-pusat penahanan itu, mereka memperlakukan kami seperti ayam.

UNICEF melaporkan, perempuan dan anak-anak migran yang tak ditemani kerabatnya tergantung pada para penyelundup manusia untuk menuju Eropa.

Mereka sangat rentan terhadap eksploitasi, perdagangan manusia, dan kekerasan, termasuk prostitusi dan pemerkosaan. Para penyelundup biasanya meminta ribuan dolar dari para migran untuk perjalanan berbahaya melintasi gurun sebelum membawa mereka naik perahu dengan peralatan seadanya untuk perjalanan melintasi Laut Mediterania.

”Rute itu sebagian besar dikontrol para penyelundup, para pedagang manusia, serta orang yang mengambil keuntungan dari anak-anak dan perempuan yang putus asa yang hanya ingin mengungsi atau mengharapkan kehidupan lebih baik,” kata Kepala Operasi Pengungsi UNICEF di Eropa Afshan Khan.

Advertisement