Manado – Sejak erupsi akhir 2015 lalu kondisi Gunung Karangetang sampai kini masih terus dipantau. Lantaran itu, masyarakat ataupun pengunjung diharapkan mewaspadai guguran lava dan awan panas gunung yang terletak di Kabupaten Kepulauan Sitaro, Sulawesi Utara tersebut.
“Ini bisa saja terjadi sewaktu-waktu dari material hasil erupsi tahun 2015 karena kondisinya belum stabil dan mudah runtuh, terutama ke sektor selatan, tenggara, barat dan barat daya,” kata pengamat Pos Gunung Api Karangetang, Yudi Tatipang, di Manado, Seperti dilansir Antara, Ahad malam (18/9).
Dia menambahkan, Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi juga merekomendasikan tidak diperbolehkan mendaki dan beraktivitas pada radius 1,5 kilometer dari kawah aktif dan perluasan ke sektor selatan, tenggara, barat dan barat daya sejauh 2,5 kilometer.
Masyarakat yang tinggal di sekitar bantaran sungai yang berhulu dari puncak Gunung Karangetang tersebut, katanya, selama musim hujan agar meningkatkan kewaspadaan terhadap ancaman lahar hujan dan banjir bandang, terutama di sepanjang bantaran kali Batuawang hingga ke pantai.
“Tingkat aktivitas Gunung Karangetang saat ini waspada level II,” ujarnya.
Dia menambahkan, kegempaan gunung api yang memiliki ketinggian 1.784 meter di atas permukaan laut pada Sabtu (17/9) pukul 00.00-24.00 WITA yaitu sebanyak 13 kali tektonik jauh amplituda 7 – 51 milimeter dengan durasi 45-90 detik, serta tiga kali vulkanik dangkal amplituda 4 – 6 milimeter berdurasi lima detik.
Selanjutnya, dua kali gempa embusan dengan amplitudo 2-5 milimeter berdurasi 20 detik, serta satu kali microtremor dengan amplituda 0.25-0.25 milimeter, dominan 0.25 milimeter.





