JAKARTA (KBK) – Kuatnya tiupan angin yang menghempas kawasan Tebet, Jakarta Selatan tak membuat Taswid dan Rowati berpindah tempat. Bersama serenteng kerupukya, pasangan tuna netra itu tetap duduk optimis menunggu pembeli yang keluar dari Pasar Tebet Timur. Sejak beberapa bulan lalu, rutinitas seperti ini lah yang menemani Taswid dan Rowati guna menyambung hidup.
Anan Surya salah seorang netizen yang menggunggah cerita kehidupan Taswid dan Rowati ke media sosial mengatakan dahulu keduanya sempat menjajaka kerupuk sembari berkeliling dari kawasan mereka tinggal di daerah Kebon Baru hingga ke kawasan Kuningan, Jakarta Selatan. Namun seiring bertambahnya usia, fisik keduanya tak lagi mampu untuk menyusuri jalanan Jakarta yang kian padat.
“Keduanya memutuskan untuk menjajakan daganganya di Pasar Tebet.epatnya di pintu keluar pasar Tebet Timur,” terang Anan dalam akun facebooknya yang ia bagikan ke Komunitas Ketimbang Ngemis Jakarta.
Rowati mengaku, ia kehilangan kemampuan melihatnya sejak berusia 5 tahun karena sakit panas yang dideritanya, namun Rowati tak dapat menjelaskan penyakit apa yang menjangkitnya secara rinci hingga pada akhirnya berbuntut dengan kebutaan. Penyebabnya yang sama juga menimpa suaminya, Taswid yang buta sejak usia 6 tahun.

Keterbatasan fisik lantas tak membuat Taswid dan Rowati patang arang. Untuk menyongsong hidup ia memilih berjualan kerupuk. Satu kantong kerupuk ia patok dengan harga mulai dari Rp 7 ribu hingga Rp 15 ribu. Sesaat matahari baru menampakan wujudnya Taswid dan Rowati sudah berjalan kaki dari rumahnya di bangan Kebon Baru menuju Pasar Tebet. Dengan keterbasatan yang dimiliki keduanya hanya berjualan hingga pukul sebelas siang. Dari hasil berjulualan kerupuk itu, Taswid dan Rowati berhasil menyekolahkan anak semata wayangnya hingga jenjang pendidikan tinggi.
Taswid berkisah, selama berdagang ia sempat beberapa kali ditipu oleh pelanggannya yang iseng. Dengan memanfaatkan kekurangan yang dimiliki Taswid, ia pernah mendapatkan bayaran yang tidak sesuai degan harga yang dipatok. Beruntung itu tak terjadi lama karena para pedagang lain yang membuka lapak bersebelahan dengan Taswid segera membantu mengawasi tiap transaksi terjadi.
Meski tak dapat melihat, kemampuan Taswid dan Ruwati dalam membaca ayat-ayat pendek tak perlu diragukan. Guna mengisi waktu kosong, Taswid menyibukan diri dengan membaca Juzz Amma Braille. Bahkan Ruwati mampu menghapal beberapa surat pendek dari surat-surat yang biasa Taswid lantunkan sehabis ibadah solat wajib.

“Sebenarnya saya ingin sekali memiliki Al-Quran braille namun sampai sekarang belum bisa memilikinya,” ucap Taswid penuh harapan.
Merdunya suara Rowati ternyata tak hanya dalam membaca Al-Quran, pada kesempatan itu Anan juga merekam dan mengunggahnya ke youtube ketika Rowati tengah berdendang menyanyikan lagu-lagu dangdut favoritnya.





