TEPAT sepuluh hari setelah jatuhnya helikopter Bell 412 EP milik TNI-AD di Malinau, Kalimantan Utara pada 24 November lalu, pesawat M28 Sky Truck Polri kecemplung di perairan Lingga, Kepulauan Riau, Sabtu.
Pesawat naas yang dipiloti oleh Ajun Komisaris (AK) Budi Waluyo itu terbang dari Bandara Depati Amir, Bangka Tengah menuju BatamĀ bersama empat kru lainnya yakni dua perwira AK Eka Barokah, dan AK Tonce serta dua bintara, Brigadir Joko Sujarwo dan Brigadir Mustofa.
Kesepuluh penumpang lainnyaĀ juga anggota polisi yakni AK Abdul Munir, AK Safran, Brigadir Satu Andri, Brigadir Angga, Brigadir Dua Eri, Brigadir Kepala Erwin, Brigadir Dua Joko Sungatno, Brigadir Dua Rizal, Brigadir Samoko dan Brigadir Suwarno.
Belum ada kepastian mengenai nasib seluruh korban pesawat yang hilang dari pantauan radar otoritas penerbangan Singapura, Ā Sabtu pukul 10.15 waktu setempat itu.Ā Ā Baru Ā barang-barang pribadi seperti tas, pakaian, dompet dan surat tugas ditemukan Ā yangĀ mengindikasikan, pesawat jatuh di sekitar P. Sebangka dan Ā Ā Ā Ā Ā Ā Ā Ā P. Semanak, Lingga.
Pencarian dengan melibatkan puluhan kapal, pesawat satuan udara polisi dan nelayan setempat dikoordinasikan oleh Basarnas masih terus berlangsung hingga berita ini diturunkan.
Sky Truck adalahĀ pesawat berbaling-baling ganda buatan Polandia pada 1993, didisain oleh perusahaan Antonov, Rusia, berkapasitas 19 orang termasuk kru, Ā mampu melaju 355 Km per jam dan berdaya jangkau 1.500 Km.
Pesawat terbang merupakan moda transportasi paling aman dengan sistem pengaman berlapis-lapis. Manusia merupakan faktor utama penyebab musibah selain masalah teknis atau eksternal lainnya seperti kondisi cuaca ekstrim.
āSetiap pilot harus mendapatkan angka 100ā, demikian motto yang ditanamkan pada setiap calon penerbang, karena setiap kecelakaan sekecil apapun berpotensi menjadi musibah.
MahlukĀ hidup terutama manusia, setiap jatuh sakit atau mati, selain dianggap sebagai takdir Allah (bagi yang beragama), pasti juga bisa dijelaskan penyebabnya secara medis.Ā Begitu pula dengan kapal terbang. Tidak bisa āujug-ujugā rusak atau jatuh tanpa penyebabnya yang bisa dijelaskan secara teknis.
Setiap kali mendengar musibah pesawat militer, pihak berwenang selalu menyebutkan bahwa pilot berpengelaman terbang cukup tinggi Ā dan sebelum mengudara, prosedurĀ perawatan pesawat sudah dipatuhi dan dilakukan dengan benar.
Cuma sampai sebatas itu, selanjutnya publik tidak pernah tahu hasil investigasi yang dapat menguak penyebab sebenarnya terjadinya musibah.
Tanpa berburuk sangka, sudah saatnya dilakukan audit forensik menyeluruh terkait pengoperasian pesawat udara militer atau kepolisian, dan hasilnya kemudian diumumkan secara terbuka, demi mencegah terulangnya musibah sama.
Kecelakaan terus berulang, padahal berdasarkan laporan, biasanya Ā pilot dan kru dinilai mumpuni karena memiliki jam terbang yang tinggi.
Pesawat dilaporkan laik terbang, digunakan sesuai visi-misinya, perawatan dilaporkan sudah Ā sesuai manual pengguna dan mengacu pada peraturan keselamatan penerbangan , juga tidak kelebihan beban.
Terus, penyebabnya apa?




