Penyandang Difabel ini Ingin Punya Toko Reparasi Komputer Agar Mandiri

Suasana pelatihan service HP di Institut Kemandirian Dompet Dhuafa

JAKARTA (KBK) – Ditemani terik matahari yang menyengat dan suara bising knalpot motor yang sedang di service, siang itu Hadad Sasabil tampak tenang mengotak-atik note book yang tersaji dihadapannya. Kendati meja kerjanya hanya dinaungi tenda biru, tangan remaja berusia 18 tahun itu tetap mantap memuntir baut.

Tiap-tiap baut yang berhasil dikeluarkan, Hadad letakan dalam sekotak wadah plastik. Supaya tak lupa, terkadang Hadad juga memisahkan baut berdasarkan ukuran agar sesuai dengan dradnya saat dipasang kembali.

Belum juga rampung membongkar note book, Hadad sudah kedatangan pasien lagi dengan keluhan laptop mati total sejak 3 bulan lalu.

“Silahkan isi formulir dulu pak, laptopnya taruh sini saja nanti coba saya lihat dulu,” ujar Hadad saat mengikuti acara bakti sosial bersama Institut Kemandirian (IK) Dompet Dhuafa di lapangan Nenas Sport Centre, RW 03 Perumnas 1, Depok Jaya, Depok, Jawa Barat.

Sejak menjadi siswa binaan IK 3 bulan lalu, secara perlahan Hadad mulai mahir mereparasi komputer. Dapat mengutak-atik perangkat elektronik merupakan hoby Hadad sejak duduk di bangku sekolah, namun keterbatasan fisik yang dialami membuat pria asal Parung Panjang itu tak memiliki akses untuk menyalurkan hoby tersebut.

Hadad tak terlahir sempurna, kakinya lemah dan beda tinggi sehingga ia harus berjalan pincang. Selain itu Hadad juga susah diajak bekomunikasi karena kerap kesulitan saat berbicara. Di luar itu kondisi ekonomi keluarga yang tak menunjang juga turut membelenggu Hadad dalam menyalurkan kemampuannya.

“Bapak saya menjadi tenaga pembantu di salah satu kampus di daerah Cimone. Saya bisa masuk IK karena dapat informasi dari teman bapak yang sudah lulus dari IK,” ujar anak pertama dari empat bersaudara itu.

Setelah mengeyam pendidikan di IK kini Hadad menjadi lebih percaya diri menatap masa depan, ia jadi paham bagaimana cara mengatasi laptop yang terserang virus, cara merakit komputer, software, instal program hingga teknik desain grafis.

“Setelah tiga bulan pelatihan, saya tinggal tunggu penempatan magang kerja,” ucap Hadad.

Hadad sadar dirinya berbeda dari teman sekelasnya, namun hal itu tak ia rasakan selama menyelami ilmu di IK. Menurut Hadad ada rasa kebersamaan yang lebih dimana tak ada batas antara teman kendati berbeda jurusan. Setelah lulus dari IK Hadad berharap dapat berwirausaha dengan membuka toko reparasi komputer, fotocopy atau percetakan di Parung Panjang.

“Semoga ada yang memodali saya untuk itu. Terimakasih untuk bantuan dan dukungan Dompet Dhuafa kepada untuk kami yang kurang mampu,” ucap Hadad.

Advertisement