Penyebab Hujan Lebat Masih Turun di Musim Kemarau

Ilustrasi hujan petir/ IST

JAKARTA – Dosen Sekolah Tinggi Meteorologi dari Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (STMKG) Deni Septiadi mengungkap penyebab hujan lebat masih terjadi di sejumlah wilayah Indonesia meski sudah masuk musim kemarau.

“Apabila mengacu pada posisi matahari Utara – Selatan, MAM (Maret-April-Mei) adalah fase peralihan dari musim hujan ke musim kemarau,” kata Deni, dalam keterangan tertulis, Jumat (20/5).

Dia menambahkan, sebagaimana dilansir CNNIndonesia, saat ini sebagian wilayah di Indonesia sudah memasuki musim kemarau dengan puncaknya pada JJA (Juni-Juli-Agustus).

Dosen yang juga peneliti Meteorologi dari Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) ini menjelaskan secara mikrofisis proses terjadinya hujan atau bahkan hujan es (hail) adalah proses kompleks dinamika atmoster yang diinisiasi dari penguapan, pemanasan permukaan, konveksi dan didukung oleh ketersediaan partikel aerosol atmosferik sebagai inti kondensasi awan.

“Artinya, pada musim-musim peralihan hingga kemarau, insolasi (incoming solar radiation) matahari bisa sempurna diterima permukaan,” tuturnya.

“Dengan demikian, labilitas atmosfer akan semakin kuat dengan potensi tumbuh berkembang awan pada periode ini akan lebih menjulang dan bengis dengan produknya seperti presipitasi, petir, dan angin,” lanjutnya.

Maka dari itu, pada periode peralihan musim seperti ini umumnya terjadi bencana hidrometeorologi seperti banjir bandang, hujan es, petir hingga puting beliung.

Lebih lanjut, faktor lain yang mendukung potensi hujan es, petir, dan puting beliung saat ini adalah hangatnya suhu muka laut di Benua Maritim Indonesia dengan anomali suhu berkisar antara 1 hingga 3 derajat Celcius.

Selain itu, Deni menyebut kondisi La Nina Moderate masih berlangsung dengan nilai anomali SST di Nino 3.4 sebesar -0.78

“Artinya wilayah BMI sangat hangat dan mendukung tumbuh berkembang awan konvektif secara masif,” terangnya.

Hujan es sendiri dihasilkan oleh awan-awan konvektif tipikal Cumulonimbus (Cb) baik yang bersel tunggal maupun bersel banyak dengan suhu puncak awan berkisar antara -60 hingga -80 derajat Celcius.

“Sepanjang penguapan (evaporasi) tidak terlalu besar, maka embrio/batu es (hailstone) yang keluar dari sistem sirkulasi konvektif internal awan akan tetap berada dalam bentuk solid es dan menuju ke permukaan (bawah) sebagai hujan es (hail),” pungkas Deni.

Advertisement