Perang Rusia vs Ukraina Makin Sengit

Awak artileri Ukraina sedang menyiapkan meriam kaliber 155M. Perang yang sudah berkecamuk sejak 24 Feb. '22 belum ada tanda-tanda mereda apalagi stop.

SEJAK awal invasi Rusia ke Ukraina, 24 Februari 2022 hingga hari ini, 18 Januari 2023 tragedi kemanusiaan berlanjut tanpa jeda, perang bahkan terus bereskalasi, belum ada tanda-tanda mereda apalagi stop.

Eentah berapa jumlah korban jiwa yang pasti, namun menurut perkiraan Panglima Staf Gabungan  AS Jenderal Mark Milley, paling tidak Ukraina dan Rusia kehilangan sekitar 100-ribu anggotanya belum termasuk sekitar 40-ribuan warga sipil.

Selain menciptakan sekitar 4,9 juta pengungsi yang keluar dari Ukraina menghindari ancaman kematian, berbagai prasarana dan sarana umum seperti apartemen hunian,dan pabrik di sejumlah wilayah Ukraina termasuk di ibukoa, Kyiv, luluh lantak dihantam artileri atau rudal jelajah yang presisi.

Tak hanya kedua negara yang mengalami kesulitan ekonomi. Rusia akibat sanksi embargo terutama ekspor energi yang mengurangi pemasukan devisa, begitu pula Ukraina yang kesulitan mengekspor gandum karena tertutupnya sejumlah pelabuhan.

Negara-negara Uni Eropa yang memboikot pasokan energi dari Rusia juga terkena getahnya karena selama ini sebagian juga bergantung impor energi dari Rusia, sementara sejumlah negara miskin di Asia dan Afrika juga terkena dampaknya akibat terganggunya pasokan rantai pangan dari kedua negara yang bertikai.

Menggambarkan makin gawatnya situasi, Kepala Staf Umum AB Ukraina menyebutkan,  pertempuran terjadi paling tidak di 25 kota di sekitar Provinsi Bakhmut, Selasa (17/1) serta di 30-an kota di wilayah Sumi dan Kharkiv dekat perbatasan Rusia.

Sasaran Sipil

Pasukan Rusia yang mendapat perlawanan sengit dari satuan-satuan Ukraina di berbagi front tidak pilih-pilih sasaran lagi, bahkan  pihak Ukraina menuding, Rusia dengan sengaja menyasar lingkungan hunian penduduk sipil.

Sebuah bangunan rusun di Kota Dnipro (17/1) meledak, 44 orang tewas dan 22 lagi belum ditemukan, namun tidak bisa dikonfirmasi siapa pelakunya.

Pihak Ukraina menyebutkan, apartemen tersebut dihantam rudal Kh-22 Rusia, sebaliknya Rusia menuduh, rudal Ukraina lah yang salah

Rudal jelajah Kh-22 berhulu ledak konvensional seberat satu ton yang dikembangkan sejak era Uni Soviet ditengarai mampu melaju pada kecepatan 4,6 Mach dan berjangkauan 600 Km.

Kekuatan Ukraina yang semula dianggap sebelah mata oleh Rusia, ternyata sulit ditaklukkan, bahkan mampu menimbulkan kerugian besar pada pasukan Rusia akibat aliran besar-besaran persenjataan dari Barat terutama AS.

Peluncur roket multi laras HIMARS, rudal panggul anti tank Javelin dan anti pesawat udara Stinger (buatan AS), serta drone Bayraktar asal Turki yang digunakan di sejumlah palagan Rusia- Ukraina dilaporkan sering menimbulkan kerugian besar bagi Rusia.

Rencana pasokan persenjataan berat seperti tank Chalenger II Inggeris, Leopard Jerman dan Abrams buatan AS  (semua seri mutakhir) untuk Ukraina dikhawatirkan akan membuat perang terus bereskalasi.

Ambruknya jembatan strategis terpanjang di Eropa, Kerch yang menghubungkan wilayah Krimea yang dicaplok Rusia pada 2014 dengan daratan Rusia (Okt. ’22), tenggelamnya kapal penjelajah kebanggaan Rusia, Moskwa (April ‘22) dan direbutnya P. Ular di L. Hitam oleh pasukan Ukraina  (Dec.’22) a.l keberhasilan yang dicapai pasukan Ukraina.

Selain kerugian nyawa dan harta benda kedua belah pihak, juga bagian dunia lain yang terimbas dampaknya, tidak ada yang diuntungkan dari peperangan ini. Ayo kembali ke meja perundingan! (AP/Reuters/ns)