Perang Terus Berlanjut

Selang 30 menit setelah masa Jeda kemanusiaan tujuh hari sampai Jumat (01/12), Israel kembali menggempur Gaza dan menewaskan 66 warga Palestina.

PERANG di Gaza antara milisi Hamas dan Israel yang sempat terhenti di tengah Jeda Kemanusiaan swlama tujuh hari sejak pekan lalu (24/11) berlanjut lagi, Jumat (1/12), hanya selang 30 menit setelah kesepakatan berakhir.

Korban tewas diperkirakan 60 orang lebih akibat aksi bombardemen dari udara dan darat oleh Israel terhadap lokasi yang ditengarai sebagai kantong-kantong perlawanan Hamas di sepanjang wilayah Jalur Gaza.

Begitu tenggat waktu Jeda Kemanusiaan berakhir, Israel dilaporkan langsung menyerang Jalur Gaza dengan kekuatan penuh termasuk mengerahkan pesawat-pesawat tempurnya, sehingga terdengar  sejumlah dentuman diikuti asap tebal di wilayah Gaza selatan.

PBB menyesalkan berlanjutnya perang yang sudah menewaskan sekitar 15.000 warga Palestina, sekitar separuhnya perempuan dan anak-anak serta 30.000 an korban lagi terluka sejak aksi balasan  Israel pada 8 Okt. atau sehari setelah serangan Hamas dengan  ribuan roket, penyerbuan ke wilayah selatan Israel dan penyanderaan 240 warganya oleh Hamas (7 Okt.).

PBB sendiri dan masyarakat int’l menyayangkan berlanjutnya perang antara Hamas dan Israel saat upaya perdamaian sedang dilakukan diawali Jeda Kemanusiaan empat hari (24 – 27 Nov.), diperpanjang dua hari sampai 29 Nov. dan ditambah sehari lagi sampai 30 Nov.

Israel juga menyebarkan selebaran agar warga meninggalkan wilayah Khan Younis di Gaza selatan yang dianggap sebagai zona pertempuran berbahaya, padahal wilayah ini menjadi salah satu tujuan ratusan ribu pengungsi dari Gaza utara.

Komisi Tinggi PBB untuk HAM Volker Turk menilai, pecahnya permusuhan kembali antara kedua pihak yang bertikai adalah malapetaka sehingga ia mengimbau negara-negara yang memiliki pengaruh atas mereka untuk melipatgandakan upaya agar   memastikan terwujudnya gencatan senjata permanen demi tegaknya HAM.

 Kebuntuan Negosiasi

Menurut pejabat senior Hamas, Osama Hanan kepada Asociated Prss (AP), pertempuran berlanjut akibat kebuntuan  negosiasi pertukaran tawanan karena pihak Israel menuntut serdadu perempuannya dibebaskan.

Hamas, menurut dia, menerima usulan pembebasan tiga tawanan yang diajukan mediator (Mesir, Qatar dan Amerika Serikat), tetapi pihak Israel selalu menolaknya.

Israel mengklaim, masih tersisa 137 sandera di tangan Hamas dan kelompok perlawanan Palestina lainnya terdiri dari 115 laki-laki, 20 perempuan dan dua anak-anak.

Sementara Hamas dan kelompok Palestina lainnya selama sepekan ini mlepaskan 105 sandera, mayoritas warga Israel sebagai imbalan pembebasan 240 warga Palestina yang meringkuk di penjara-penjara Israel.

Tak kurang dari Presiden Jokowi sendiri yang langsung terbang ke Washington seusai mengikuti KTT OKI di Jeddah untuk bertemu Presiden AS Joe Bidan dan meminta ia menggunakan pengaruhnya  untuk membujuk Israel.

PM Israael Benjamin Netanyahu sendiri di berbagai kesempatan menegaskan sikapnya untuk menumpas habis elemen Hamas sampai ke akar-akarnya sehingga tidak lagi mengancam keamanan negerinya.

Sedangkan pengamat int’l yang juga Guru Besar Fakultas Hubungan Int’l UI HIkmahanto Juwana menilai, Israel tidak bakal menggubris tekanan int’l termasuk dari AS, dan setiap resolusi DK PBB juga bakal diveto oleh AS dan anggota lainnya (Perancis, Inggeris).

“Baiknya media terus meyajikan fakta-fakta terkait aksi-aksi kekejaman yang dilakukan Israel terhadap penduduk Gaza agar rakyat AS dan negara-negara Barat yang mendukung Israel, juga rakyat Israel ikut menentangnya, “ kata Prof. Hkimahanto.

Menurut Hikmahanto, Israel dengan mesin perang raksasa dan teknologi militer canggih yang dimilikinya, bisa saja melumpuhkan Hamas, namun dendam kesumat, anak-cucu atau generasi penerus Hamas berikutnya membuat siklus kekerasan bakal terus berlanjut.(Reuters/AP/AP/ns)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Advertisement