
MIMPI panjang rakyat Suriah tentang perdamaian agaknya belum segera berakhir setelah putaran kelima forum perundingan yang digagas Rusia, Iran dan Turki di Astana, ibukota Kazakhstan, Rabu (5/7) menemui jalan buntu.
Ketiga negara sponsor pertemuan tersebut gagal mencapai kesepakatan akibat perbedaan tajam mengenai zona deeskalasi kawasan konflik di Suriah terutama menyangkut pengawasan dan batas antara satu zona dengan zona lainnya.
Dalam komunike bersama yang dibuat di akhir pertemuan, ketiganya hanya sepakat membentuk komite kerja guna merundingkan detil teknis dan finalisasi zona deeskalasi.
Pada pertemuan sebelumnya Mei lalu ketiga negara sepakat membentuk tiga zona deeskalasi di wilayah Suriah dan juga negara pengawasnya. Zona deeskalasi utara (Idlib, Alleppo dan sebagian Lattakia) dibawah pengawasan Rusia dan Turki, zona tengah (Hama, Homs, Ghouta timur dan Damaskus) ditangani Rusia dan Iran, sedangkan zona selatan (Deraa, Quneitra dan As-Suwadya) oleh Rusia dan Jordania.
Sejumlah persoalan muncul dalam pelaksanan zona deeskalasi akibat friksi-friksi politik diantara ketiga negara sponsor. Turki yang selama menggelar kekuatan pasukan yang cukup besar di Suriah utara mempersyaratkan agar satuan suku Kurdi (Pasukan Pelindung Rakyat – YPG) – kelompok separatis bagi Turki – ditarik ke timur Sungai Eufrat.
Dalam perang saudara di Suriah yang sudah berkecamuk sejak tujuh tahun lalu. Rusia dan Iran selama ini berada di belakang rezim pemerintah Bashar al-Assad , sedangkan Turki mendukung kelompok perlawanan (Pasukan Pembebasan Suriah – FSA) yang juga bergabung dengan YPG.
Laporan Organisasi Pemantau Hak Asasi Manusia Suriah (SOHR) menyebutkan, perang saudara di negeri itu telah merenggut 465.000 jiwa.
Konflik Suriah selain dipicu persoalan internal antara kubu loyalis al-Assad dan kubu perlawanan yang tergabung dalam FSA , juga akibat akumulasi kepentingan dan perebutan pengaruh negara-negara sekitarnya serta “pemain” kelas dunia (AS dan Rusia) dan juga konspirasi politik sektarian.
Perebutan pengaruh di kawasan antara Arab Saudi dan Turki di satu pihak dan Iran, Irak dan Kurdi di pihak lain juga ikut memicu konflik, sementara dari kelompok sektarian antara penganut Syiah dan Sunni.
Rusia, pendukung dan pemasok senjata utama Suriah untuk menghadapi Israel, berada di belakang rezim al-Assad, karena menganggap Suriah sangat strategis, termasuk memperoleh izin penempatan armadanya di Tartus.
Selain perang antara rezim petahana dan kelompok perlawanan, FSA berintikan satuan YPG Kurdi bentukan AS pada 2015 sedang memasuki hari-hari terakhir merebut benteng terakhir kelompok NIIS di kota Raqqa, 458 arah timur laut Damaskus.
Yang sangat memprihatinkan masyarakat dunia, seperti dilaporkan Badan PBB untuk Anak-anak (Unicef), perang Suriah menyebabkan putusnya rantai generasi muda di negeri itu.
Kehidupan enam juta anak-anak Suriah tergantung bantuan, 2,8 juta diantaranya dalam kondisi rentan, bahkan sepuluh persen dari jumlah itu (sekitar 280.000 anak-anak) amat buruk, tidak memiliki akses atas hak-hak dasar mereka, bahkan ratusan anak-anak dipaksa ikut perang.
Sepanjang 2016 saja tercatat 655 anak-anak meregang nyawa, 225 di lingkungan tempat tinggal atau sekolah akibat bombardemen atau terperangkap dalam kontak tembak antara kedua kubu yang bertikai.
Entah sampai kapan tragedi manusia di Suriah akan berakhir. (AP/AFP/Reuters/ns)
,




