Peringatan: Cabai Membunuhmu!

Ilustrasi

TAK pernah ada berita orang mati karena tidak makan cabai. Tapi minggu-minggu ini harga cabai yang menggila memang bisa bikin orang mati berdiri. Bagaimana mungkin harga cabai melejit sampai ratusan ribu perkilo, bahkan di Samarinda (Kaltim) sampai Rp 200.000,- Jika Kementrian Perdagangan dan Kementrian Pertanian tak bisa juga mengatasi, jangan heran nanti ada peringatan: cabai membunuhmu!

Sepertinya, makan cabai itu sudah menjadi hak semua anak bangsa. Orang Indonesia tak bisa hidup tanpa cabai. Makan nasi, pakai sambal. Makan bacem tempe atau tahu, juga sambil nyeplus (makan) cabai. Padahal sebetulnya cabai itu hanya asesori orang makan. Ironisnya, makan tanpa sambal, makan bacem tahu-tempe tanpa nyeplus cabai, bisa terbunuh selera makannya. Dan jika harga cabai terus menggila, itu juga membunuh daya beli.

Dalam kondisi normal dewasa ini, mestinya harga cabai di Jakarta pada kisaran Rp 30-40.000,- perkilo, tapi sekarang melejit hingga Rp 120.000,- hingga Rp 150.000,- Di Yogyakarta sampai Rp 70.000,- Surabaya Rp 100.000,- bahkan Samarinda bertengger pada angka Rp 200.000,- Maka tak  mengherankan, koran-koran pun mengambil judul: harga cabai semakin pedas!

Rakyat pun bertanya pada pemerintah, kenapa harga cabai bisa menggila seperti ini? Tapi dua menteri di Kabinet Kerja ternyata jawabnya ngrujak sentul, siji ngalor siji ngidul. Menteri Pertanian Amran Sulaiman bilang, pasokan aman, hanya tidak merata. Sedangkan Menteri Perdagangan Enggartiasto beralasan, produksi cukup tapi karena hujan berkepanjangan jadi busuk.

Jika begitu alasan Pak Menteri Perdagangan, kenapa tidak bersinergi dengan paranormal? Kerahkan pawang hujan agar curah hujan yang berlebihan itu dipindahkan ke daerah yang bukan produsen cabai. Atau, bangun gudang-gudang pendingan cabai di daerah penghasil cabe. Dengan kiat sedemikian rupa, niscaya baik Menperdag maupun Mentan bisa meniru istilah Menpen Harmoko di era Orde Baru: stok cabai aman sampai Lebaran.

Menghadapi krisis cabai tersebut kemarin Mentan Amran Sulaiman memberi solusi, akan mengirimkan 10 juta bibit cabe di seluruh ibu-ibu PKK di Indonesia. Para ibu-ibu diminta menanam cabai di rumah masing-masing. Bagi daerah pedesaan, itu tidak masalah. Tapi di daerah perkotaan seperti Jakarta di mana banyak warga yang tak punya halaman, mau ditanam di mana?

Jangan-jangan gagasan Pak Menteri ini sekedar mengadopsi cara Pak Harto ketika mengantisipasi krisis cabai. Di masa Orde Baru dulu juga pernah terjadi krisis cabai, sehingga kaum ibu-ibu di kota mendapat petunjuk bapak presiden, agar menanam cabai di rumah masing-masing.

Cabai berskala besar memang untuk kebutuhan industri, sedangkan sisanya untuk rumahtangga dan rumahmakan. Tapi meski pasokan cabai kurang, kalangan industri tak pernah teriak-teriak. Beda dengan rumahmakan dan ibu rumahtangga, mereka paling awal mengeluh. Lagi-lagi karena pengaruh budaya juga, makan tanpa sambel selera jadi terbunuh. Jika harga cabai terus begini, daya beli rakyat akan cabai juga terbunuh.

Dalam kondisi darurat, memang ada solusinya. Selagi harga cabai mahal, kenapa tidak mendiversifikasi dengan sambal merica saja? Bukankah merica juga sama pedas seperti cabai? Ingat, Belanda dulu sampai menjajah Indonesia 350 tahun lamanya, pada awalnya juga hanya kerena mereka berburu merica.

Betapapun harga cabai semakin pedas, kita tidak perlu panik. Orangtua lebih perlu khawatir dan panik, ketika gadis-gadis ABG kita menjelma jadi cewek cabe-cabean. Mereka senang keluyuran malam dan nongkrong di arena balapan liar atau pacaran di atas jembatan layang. Bila salah jalan, orangtua bisa seperti orang kepedasan, gara-gara putrinya hamil tanpa melalui perkawinan. (Cantrik Metaram).

Advertisement