JAKARTA – Dompet Dhuafa melalui LKC Dompet Dhuafa dalam rangka merayakan Hari Tuberkulosis Sedunia (HTBS) tahun 2022 pada Selasa (30/03/202) bersama mitra dan multistakeholder menggelar Focus Group Discussion (FGD) bertempat di Hotel Kuretakeso, Jakarta Selatan.
“Kegiatan ini sangat bermafaat dan nyata, bermakna, dan perlu dilakukan secara terus menerus guna mempercepat eliminasi TBC di tahun 2030 di indonesia ini. Semoga kegiatan ini diikuti oleh filantropi-filantropi yang lainnya, yang kali ini Dompet Dhuafa benar-benar bisa menjadi bola salju untuk bisa menggaet lembaga filantopi-filantopi yang lain untuk bisa berpartisipasi bersama-sama untuk bisa menyelesaikan masalah TBC dan eliminasi di tahun 2030,” jelas dr Dr. drh. Didik Budijanto, M.Kes selaku Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular (Direktur P2M) Kemenkes RI.
Dr. drh Didik juga mengapresiasi kegiatan yang dilakukan oleh Dompet Dhuafa yang turut membantu pemerintah untuk mencapai elimiasi TB 2030.
“Kami sangat mengapresiasi sekali apa yang dilakukan oleh Dompet Dhuafa, Dompet Dhuafa bukan hanya terlibat, tapi juga turut mengawal agenda pemerintah agar eliminasi TB di 2030 terus bisa tercapai,” ujar Dr. drh. Didik.
Pembelajaran dari para panelis yaitu PP Aisyiyah sejak tahun 2004-2021 memberikan gambaran pencapaian program TB berbasis komunitas dapat dilakukan dan memberikan hasil nyata dalam upaya mendukung elimitasi TB. Sejalan dengan hal tersebut, peran CSO dan lembaga filantropi tergambar dalam penjelasan panelis Dompet Dhuafa dr. Yeni Purnamasari, MKM yang menjelaskan kesenjangan yang perlu diisi oleh lembaga zakat dan filantropi sesuai data di lapangan sebagaimana kutipan berikut.
“Dompet Dhuafa telah berperan dalam pencegahan dan penanggulangan TBC sejak tahun 2004 sampai dengan 2022. Upaya yang sudah dilakukan oleh Dompet Dhuafa yang pertama adalah terlibat dalam penemuan kasus baik secara aktif melalui peran serta kader dan pemberdayaan masayrakat, juga secara pasif melalui ketersediaan jejaring fasilitas layanan kesehatan, yang kedua edukasi dan kampanye tuberkulosis untuk mengurangi stigma sekaligus melakukan sosialisasi terkait dengan penyakit tuberkulosis kepada masyarakat, yang ketiga Dompet Dhuafa berperan dalamdukungan non kesehatan dan kesehatan yang terkait dengan upaya keberhasilan pengobatan pasien TB, seperti dukungan nutrisi, rumah singgah, transportasi ambulance maupun dukungan lain yang dibutuhkan, sesuai dengan kasus TBC yang ada,” dr. Yeni Purnamasari, MKM selaku General Manager Divisi Kesehatan Dompet Dhuafa.
Sejumlah rangkaian kegiatan memperinganti TBC telah di gelar oleh tim Divisi Kesehatan Dompet Dhuafa tahun ini diantaranya adalah ketuk pintu, pameran TBC dan Focus Group Discussion (FGD).
Hal ini, juga selaras dengan upaya Divisi Kesehatan untuk mempercepat eliminasi tuberkulosis 2030 serta meningkatkan silaturahmi sesama organisasi filantropi di Indonesia dalam mengoptimalisasi peran dan potensi lembaga filantropi Indonesia untuk pembangunan kesehatan untuk peningkatan angka penyembuhan pasien TBC melalui lintas lembaga zakat dan filantropi.
Sementara FGD yang dilangsungkan LKC-DD berkolaborasi dengan Forum Zakat (FoZ). Acara ini menghadirkan pembicara yang menguasai dalam bidang tuberkulosis seperti Dr. drh. Didik Budijanto, M.Kes Direktur Pengendalian Penyakit Menular Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular (Direktur P2M) Kemenkes RI, dr. Tiffany Tiara Pakasi, MA selaku Koordinator Substansi TBC dan ISPA Direktorat P2PM Kemenkes RI, dr. Yeni Purnamasari, MKM selaku General Manager Divisi Kesehatan Dompet Dhuafa, Dra. Noor Rochmah sebagai Wakil Ketua Majelis Kesehatan Aisyiyah, Budi Hermawan selaku Ketua Perhimpunan Organiasi Pasien Tuberkulosis (POP TB), dan Perwakilan dari LKNU.
“Harapannya setelah teman-teman lembaga filantropi mengetahui tantangan yang berat ya, dimana bisa menjadi bahaya laten dan untuk masa depan sangat membayakan maka kita mengharapkan untuk bisa temen-temen lembaga filantropi benar-benar dengan potensi yang dimiliki bisa membantu mengatasi masalah-masalah yang dihadapi dilapangan dan dipelayanan,” ujar Dra. Noor selaku Wakil Ketua Majelis Kesehatan Aisyiyah.
Selain itu, Budi Hermawan memberikan sambutan yang baik dan berharap kegiatan ini dapat membantu hal-hal yang dibutuhkan oleh pasien tuberkulosis.
“Kegiatan ini cukup baik sekali dan saya menyambut baik dengan berkumpulnya lembaga filantropi untuk bagaimana memberikan partisipasinya terhadap eliminasi tuberkulosis 2030. Harapannya ini bisa menjadi wadah yang baik ya untuk kita dan bisa bisa bermanfaat untuk orang banyak dan ini bisa kita tingkatkan lagi kerjasama dan peran aktif dari lembaga filantropi, bagaimana nanti bisa membantu gap-gap yang kosong yang dibutuhkan oleh pasien tuberkulosis dari pasien mendapatkan gejala sampai sembuh,” tutur Budi.
Kegiatan yang FGD ini, berlangsung secara offline dan online dalam melakukan pemetaan potensi dan peran serta lembaga filantropi dalam program eliminasi TBC, penyusunan rencana kolaborasi lembaga filantropi untuk partisipasi dalam eliminasi TBC 2030, terbentuknya struktur aliansi filantropi peduli TBC, adanya peta konsep pembentukan wilayah kerja lembaga filantropi untuk eliminasi TBC 2030 dan memberikan kontibusi upaya peningkatan angka penyembuhan TBC melalui kerjasama lintas lembaga zakat dan filantropi.





