Perlawanan Ukraina kian menggigit

Aliran alutsista dari AS dan negara-negara Barat termasuk peluncur roket HIMARS membuat target Rusia menaklukkan Ukraina secepatnya molor terus, bahkan perlawanan Ukraina makin gencar.

INVASI Rusia ke negara tetangganya, Ukraina yang sudah berlangsung sekitar dua tahun empat bulan sejak 24 Feb. 2022 belum mencapai tujuannya, bahkan hari ke hari kian mendapatkan perlawanan sengit.

Kremlin agaknya salah hitung. Berbeda dengan kondisi pada awal perang, hanya dalam waktu beberapa bulan, mesin perang raksasa Rusia didukung sekitar 100.000 personil, ratusan tank, kapal perang dan pesawat tempur sudah berhasil mengepung ibukota Ukraina, Kiev.

Korban tewas kedua belah pihak ditaksir sudah mencapai sekitar setengah juta personil, belum kerugian akibat rusaknya sarana dan prasarana publik terutama bangunan hunian penduduk yang luluh lantak dirudal atau dibombardir Rusia dari darat, Laut dan udara.

AB Rusia memiliki 3,5 juta personil dibandingkan Ukraina 1,1 juta personil, sedangkan dari sisi anggaran militer, Rusia 109 miliar dolar AS (sekitar Rp1.787 triliun) di ranking ke-3 setelah AS dan China,  Ukraina 42 miliar dollar (Rp 668,8 miliar) di peringkat ke- 12.

Matra darat Rusia a.l. berkekuatan 13.000 tank tempur utama, 30.000-an kendaraan lapis baja pengangkut pasukan dan tempur infantri, 12.500 pucuk artileri Tarik, 6.000 pucuk artileri swagerak serta 1.500-an peluncur roket atau rudal.

AU Rusia mengoperasikan 4.200 unit pesawat termasuk ratusan pesawat tempur seperti Sukhoi SU-30, SU-35 sampai SU-57, MiG-31, pengebom strategis TU-22, TU-95 dan TU-160 ,  helikopter serang MI-35, KA-50 dan KA-52.

Sedangkan di laut, Rusia mengoperasikan 265 kapal perang termasuk satu kapal induk, 58 kapal selam, sebagian betenaga nuklir, 12 kapal perusak, empat kapal penjelajah, 83 korvet dan 28 kapal peyebar atau penyapu ranjau.

Sebaliknya alutsista Ukraina kalah jauh, baik dalam jumlah mau pun kualitas, apalagi sebagian besar warisan peninggalan Uni Soviet saat Ukraina masih begabung.

AD Ukraina a.l diperkuat 1.000-an unit tank warisan Uni Soviet seri T mulai dari T-55, T-62, T-64, T-72, T-80, selain pasokan 60 unit tank Leopard Jerman, 147 unit Chalenger buatan Inggeris dan 31 unit M1A Abrams buatan AS.

Sementara AU Ukraina didukung sekitar 100 pesawat militer, beberap puluh pesawat tempur lawas eks- Soviet seperti SU-24, SU-27 dan MiG-29, sedangkan AL-nya nyarus lumpuh setelah armada lautnya di Krimea  diambil alih Soviet pada 2014.

Namun daya pukul pasukan Ukraina meningka bberapa kali lipat  setelah aliran alutsista dari Barat berdatangan, misalnya 39 set peluncur roket  High Mobility Artilery Rocket Sistem (HIMARS), sistem rudal pertahana udara Patriot  (buatan AS) dan  M270 buatan Perancis serta rudal-rudal taktis Storm Shadow dari Inggeris.

Tank-tank Rusia juga tidak leluasa lagi memasuki wilayah Ukraina, karena jika lengah bisa dimangsa drone-drone serang buatan AS dan Turki atau rudal anti tank Javelin (AS).

Ukraina walau kalah dalam jumlah maupun kualitas autsista, unggul dalam penggunaan dron serang yang dipasok AS (a.l Switchblade dan jump UAS) serta Bayraktar TB2 dari Turki, sebaliknya Rusia mengandalkan dron buatan Iran Shaheb 136.

PM baru Inggeris Kear Stramer juga telah menginjinkan penggunaan rudal  Storm Shadow yang dikirimkan untuk digunakan Ukraina tidak saja untuk bertahan diri, tetapi juga menyerang posisi-posisi Rusia.

Pesawat-pesawat pengebom Rusia juga bakal tidak bisa leluasa lagi membombardir Ukraina, setelah KTT NATO yang digelar di Washington DC, Rabu lalu menyepakati pengiriman puluhan pesawat tempur Fighting Falcon F-16 buatan AS milik Denmark dan Belanda ke Ukraina.

Tentu saja aliran alutsisa Barat bagi Ukraina, membuat gerah Rusia karena upayanya menaklukkan negara tetangga bekas sempalan Uni  Soviet itu secepatnya makin sulit diwujudkan                                (Reuters/the Guardian/ns).

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Advertisement

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here