
Memasuki daerah persawahan, di kawasan Lengkong Jaya, Garut, Jumat Sore (10/3/2017), dengan jalan kecil yang hanya bisa dilewati 1 mobil, pengendara harus berhati-hati. Kalau ada mobil lain berlawanan arah melewati jalan yang sama, salah satunya harus mengalah, berhenti dan menepi ke tempat yang agak lapang, sehingga memungkinkan untuk kedua mobil bisa melintas dan berpapasan.
Di kiri dan kanan jalan itu, terlihat sebagian sawah baru saja dipanen pemilik, tapi banyak juga sawah yang sudah selesai dibajak dan diisi air. Kemudian oleh petani, sawah yang sudah diairi itu ditebar bibit ikan, yang menurut penduduk setempat, ikan-ikan itu akan dipanen nanti, ketika padi hendak ditanam.
Di kejauhan dari kawasan itu, terlihat Gunung Guntur dengan kokoh menjaga kawasan Kota Garut dan sekitarnya. Puncaknya diselimuti awan, yang di selanya membias cahaya matahari senja. Dan di sekitar lahan persawahan, untuk mengisi senja, sekelompok anak muda Garut berkumpul di salah satu sawah luas yang baru saja dipanen. Mereka ke sana menggunakan motor, dengan masing-menyandang sebuah sangkar yang di dalamnya berisi 3 sampai 9 ekor burung dara, yang orang Garut menyebutnya Japati.
Sudah menjadi kebiasaan bagi anak muda Garut, di sore hari jika cuaca cerah, mereka melakukan balap Japati. Masing-masing anak muda sama-sama melepas seekor Japati jantan. Mereka lempar ke udara. Japati itu meliuk-liuk dan terbang jauh, kemudian ia dipanggil dengan mengepakkan sayap Japati betina, Japati jantan tadi akan datang kembali ke tuannya yang memegang Japati betina itu secepat-cepatnya. Japati yang paling jauh terbang dan cepat kembali, itulah yang menang. Taruhan mereka bisa berbagai macam, tapi kesenanganya tidak dapat dinilai dengan apapun, hal itu membuat mereka menyandu melakukannya.
Tidak jauh dari tempat anak muda balap Japati itu, 13 tukang sedang sibuk memasang dinding rumah. Salah satu tukang berpakaian antribut lengkap Dompet Dhuafa, dengan baju, helm, name tag berlogo Dompet Dhuafa. Ia asyik mengebor rangka baja yang akan dipasang di perumahan yang sedang ia bangun.
Ia adalah Resda Jayapangestu, 25 tahun, yang sudah 5 tahun menjadi Relawan DMC di setiap bencana. Kini Ia dikontrak khusus menjadi pengawas pembangun rumah yang diperutukkan oleh Dompet Dhuafa untuk korban banjir bandang Garut, September 2016 lalu itu.
Bagi Resda dan para tukang, membangun rumah untuk pengungsi tersebut sudah seperti memasang rumah mainan dengan lego. Para tukang tinggal mengadu pinggir belahan semen beton, ke tiang yang juga beton, yang sudah disiapkan dari pabrik.
Rumah itu disebut RISHA (Rumah Instan Sehat Sederhana). Merupakan rumah yang dibangun Tim Recovery bencana Disaster Managemen Center (DMC) Dompet Dhuafa yang diperuntukkan bagi korban bencana banjir Garut. Saat ini, korban banjir sebanyak 783 KK masih tinggal di 6 Posko Pengungsi di Kota Garut. Rumah mereka sebagian besar sudah ludes dibawa air bandang.
Untuk rumah RISHA sendiri dibangun Dompet Dhuafa di Desa Lengkong Jaya, Kampung Pananggungan. “Tahap awal kita bangun 30 rumah,” ujar Asep Beny, Manager Recovery DMC Dompet Dhuafa.
Dikatakan Asep, satu rumah diperuntukkan untuk satu KK pengungsi. Selain Dompet Dhuafa, lembaga kemanusiaan lain juga turut membangun rumah yang sama di Lengkong ini. Direncanakan totoal rumah yang akan dibangun 380 rumah, namun lahan yang baru disediakan pemerintah Garut baru untuk sekitar 171 rumah dan 30 di antaranya diamanahkan kepada Dompet Dhuafa.
RISHA merupakan teknologi terapan dari perusahaan Indocement, yang merupakan partner Dompet Dhuafa dalam membangun rumah untuk pengungsi korban banjir bandang Garut. Teknologi RISHA ini diyakini dapat mempercepat proses pembangunan dan kokoh karena tiang dan dinding terbuat dari beton.
Menurut Edem, 50 tahun, alumni sekolah tukang tiga roda yang merupakan tukang senior di proyek ini, untuk membangun rumah dengan cara biasa untuk type 36, secapatnya bisa mencapai 1,5 bulan per rumah type 36. Namun dengan teknologi RISHA, maka pembangunan rumah dengan type yang sama hanya membutuhkan waktu 7 s.d 10 hari.
Asep menjelaskan, setelah 30 rumah ini jadi maka dengan segera akan diserahkan kepada pemerintah Garut, dan pemerintahlah yang akan menentukan penerima manfaat dari rumah tersebut.
“Yang pasti penerima manfaatnya adalah korban banjir bandang Garut 2016, yang kini masih berada dalam pengungsian” jelas Asep.
Meskipun rumah sudah diserahkan kepada pemerintah dan pemerintah sudah menyerahkan kunci rumah kepada korban banjir Garut, ternyata urusan Dompet Dhuafa tidak selesai sampai di situ.
Dijelaskan Asep, di samping membangun rumah untuk korban banjir Garut, Dompet Dhuafa juga akan membangun Bio Degester berupa sebuah spiteng besar yang menampung seluruh kotoran manusia penghuni komplek perumahan tersebut untuk diolah menjadi energi terbarukan.
Energi itu kemudian disalurkan ke rumah-rumah korban banjir tersebut yang kemudian dimanfaatkan untuk berbagai keperluan rumah tangga. “Dalam rencana, Dompet Dhuafa juga membuat sebuah tempat sampah organik yang akan diolah menjadi kompos yang akan dapat menjadi sumber penghasilan bagi penghuni komplek tersebut,” terang Asep.
Begitulah sebuah rencana yang sudah disusun Dompet Dhuafa untuk membantu korban banjir dari hulu ke hilir, agar mereka hidup di pemukiman baru dengan efektif dan penuh harapan serta berbahagia bersama keluarga. Harapan itu, setahap demi setahap mulai terujud dengan berdirinya rumah-rumah RISHA Lengkong Jaya Garut ini.




