Pertahankan Klaim Nol Kasus Corona, Komisi Negara Korut Dirombak Besar-besaran

ilustrasi Korea Utara/ reuters

KOREA UTARA – Pandemi corona yang telah menyebar di ratusan negara di dunia, diklaim Korea Utara tidak singgah di negara tersebut, dan hingga kini masih nol kasus.

Bukan hanya menutup perbatasan negara dengan cepat saat virus mulai mewabah di China, bahkan kini pemimpin Korea Utara Kim Jong Un telah melakukan perombakan besar-besaran Komisi Urusan Negaranya, untuk menggantikan lebih dari sepertiga anggotanya.

Kim telah memperkuat cengkeramannya atas negara itu sejak berkuasa pada 2011 dan merupakan ketua SAC,  badan pembuat keputusan tertinggi Korea Utara.

Pada pertemuan langka Majelis Rakyat Tertinggi negara itu pada hari Minggu, lima dari 13 anggota SAC lainnya digantikan, seperti dilaporkan kantor berita resmi KCNA.

Parlemen bertemu sehari setelah Kim memimpin pertemuan politbiro partai pemerintahan di mana ia menyerukan langkah-langkah ketat untuk mencegah wabah virus corona baru.

Sebuah laporan kabinet yang diajukan kepada majelis menegaskan kembali desakan Korut bahwa “tidak ada satu kasus” dari coronavirus telah dilaporkan di negara itu. “Kampanye anti-epidemi darurat negara akan terus diintensifkan untuk mencegah penyebaran COVID-19,” kata laporan kabinet itu.

Berdasarkan foto yang dirilis oleh kantor berita negara KCNA  menunjukkan ratusan legislator duduk berdekatan satu sama lain tanpa topeng atau tindakan nyata lainnya untuk melindungi diri dari penyakit.

Hingga kini Korea Utara mengatakan negaranya bebas dari corona, meski Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) sempat mengatakan pada pekan lalu jika setidaknya 700 orang telah melakukann tes dan lebih dari 500 orang dikarantina, namun tidak ada hasil positif.

Sebelumnya Korea Utara telah mengambil langkah cepat untuk mencegah penyebaran virus, termasuk memblokir hampir semua perjalanan dengan negara tetangga China dan Rusia, menangguhkan pariwisata internasional dan memaksakan karantina panjang pada ribuan orang, termasuk diplomat asing.

Larangan kunjungan turis yang diberlakukan Korut ini menjadi yang pertama di dunia. Korut beralasan sebagian besar turis mencanegara yang berwisata ke Korea Utara adalah penduduk China, dan jumlah mereka naik secara signifikan pada tahun lalu karena hubungan antara Beijing dan Pyongyang membaik.

Namun beberapa ahli menyatakan keraguannya terhadap klaim Korut yang menyatakan belum mendeteksi  kasus infeksi virus Corona. Menurut para pembelot,  Korea Utara sangat rentan terhadap virus karena sistem perawatan kesehatan yang lemah, karenanya Pyongyang menutupi wabah.

 

Advertisement