AFGHANISTAN – Lebih dari 200 keluarga di provinsi Afghanistan timur mengungsi akibat pertempuran antara militan ISIS dengan Taliban.
Pejabat setempat mengatakan ratusan keluarga meninggalkan rumah mereka di distrik Khogyani, provinsi Nangarhar timur, ketika dua pihak terlibat pertempuran sengit.
Ahmad Ali Hazrat, ketua dewan provinsi Nangarhar, mengatakan kepada Radio Liberty bahwa bentrokan tersebut terjadi di daerah-daerah yang berada di bawah pengaruh Taliban. Ia menambahkan banyak penduduk meninggalkan rumah agar tidak terjebak dalam baku tembak antara kedua kelompok militan itu.
Pertempuran ini bukan pertama kalinya, dan warga sipil harus menanggung beban akibat konflik antara ISIS dan Taliban di distrik tersebut. Menurut pemerintah provinsi, lebih dari 2.000 keluarga mengungsi dan sekurangnya delapan warga sipil tewas bulan Oktober ketika ISIS dan Taliban bentrok selama beberapa hari di wilayah Waziro Tangi di distrik Khogyani.
Lembah Waziro Tangi dianggap sebagai koridor ekonomi penting yang digunakan militan untuk menyelundupkan pasokan mineral Afghanistan ke negara tetangganya Pakistan.
Selain bertempur melawan militan Taliban, pejuang ISIS berkali-kali menyasar desa-desa setempat di Nangarhar. Kelompok itu telah menghancurkan rumah, membakar pasar dan melarang anak-anak bersekolah di daerah yang berada di bawah kendalinya.
Kelompok militan ISIS juga mengklaim bertanggung jawab atas sejumlah serangan mematikan di kota-kota besar Afghanistan, termasuk serangan terhadap masjid dan tempat-tempat ibadah.
Menurut Jenderal John Nicholson, komandan pasukan Amerika dan NATO di Afghanistan, kelompok ISIS dilaporkan merencanakan membentuk “khilafah” di Afghanistan. Ia baru-baru ini mengatakan, “Mereka menyatakan Jalalabad akan menjadi ibu kota dan akan mengambil alih Nangarhar, tetapi mereka gagal.” ujarnya, dilansir VOA, Senin (27/11/2017).
Â





