JAKARTA (KBK) – Sengatan matahari tak mengurungkan niat Yuni memetik pakcoi. Meski peluh membasahi dahinya ia tetap fokus memilah helai pakcoi yang dianggap bagus sambil berjongkok. Setelah terkumpul satu ikat, pakcoi tersebut diserahkan kepada Teteh lalu dibersihkan. Siang itu Yuni tidak sendiri, ia datang memetik pakcoi
bersama tujuh ibu muda lainnya.
“Seminggu dua kali saya beli sayur di sini. Sayurnya bagus, segar dan murah cuma Rp 5 ribu seikat. Enaknya di sini bisa langsung petik sendiri,” Ujar Yuni kepada KBK di pekarangan Balai Penyuluhan Pertanian (BPP), Ragunan, Jl. Poncol-Ragunan, Jakarta Selatan.
Teteh si empunya ladang menuturkan selain pakcoi ia juga menanam bayam, salada air dan kangkung. Sayuran tersebut lantas ia jual kepada siapa pun yang datang ke ladangnya. Sejatinya lahan seluas hampir 1,5 hektar itu bukan milik Teteh. Di sana ibu lima anak itu hanya diberi tanggung jawab untuk menghidupkan lahan pertanian
milik Suku Dinas Pertanian Pemprov Jaksel.
“Lumayan dalam sehari saya bisa dapat Rp 100 ribu dari bayam, pakcoi dan kangkung. Tapi ini tidak setiap hari karena tergantung musim panen. Lumayan bisa buat tambah-tambah,” jelas wanita asal Bogor, Jawa Barat tersebut
Engkos petani lainnya mengatakan bila musim kemarau tiba seperti saat ini, pendapatannya melorot tajam karena tekstur tanah yang menjadi cepat kering sehingga berdampak pada masa panen yang lebih lama.
“Bisa sampai satu bulan baru panen,” ungkap Engkos sambil menyiram bibit bayam berusia 5 hari.
Selain konsumen bisa memetik sendiri, kelebihan lainnya terdapat pada pemberian nutrisi tanaman yang tidak menggunakan pupuk kimia. Semuanya dikatakan Engkos menggunakan pupuk kandang dari kotoran ayam.
Dari pantauan KBK di lapangan, siang itu suasana pertanian relatif sepi. Segerombolan ibu-ibu hanya terlihat berpusat di satu sudut. suasana yang agak sedikit riuh justru terlihat di pintu masuk yang bersanding dengan danau mini buatan. Di sana jejeran pemancing terlihat serius menunggu kailnya disambar ikan. Selain itu diekarangan Balai Penyuluhan Pertanian, Ragunan juga terdapat pembibitan tanaman buah.
Ketika ditanya apakah kedepannya Balai Penyuluhan Pertanian, Ragunan bakal dijadikan kawasan agrowisata, baik Teteh maupun Engkos kompak menggelengkan kepala.
“Saya nggak tahu tuh. Tidak pernah dengar juga,” ucap Teteh yang sudah lima tahun menggarap lahan tersebut.





