Petugas dan Pemudik Nekat “Adu Kuat”

Ilustrasi pemudik

AGAKNYA terinspirasi dari sukses menerobos larangan mudik tahun lalu, mereka yang nekat pulang kampung masih berusaha dengan berbagai cara agar lolos dari titik-titik penyekatan.

Sebagian pemudik terutama dengan kendaraan beroda dua sengaja memilih perjalanan malam hari, selain menghindari sengatan mata hari, juga berharap petugas kelelahan sehingga pengawan terhadap mereka mengendur.

Selain lelah mencegati pemudik yang “ngeyel” padahal tidak membawa Surat Izin Keluar Masuk (SIKM), surat tugas atau keterangan (ibu hamil, sakit atau melayat keluarga) untuk diizinkan melakukan perjalanan pada tanggal larangan mudik 6 sampai 17 Mei.

Bahkan ratusan pengendara motor, Sabtu (5/8) dinihari pukul 05.00 mencoba menerobos barikade pos polisi Bundaran  Kepuh, Karawang, Jawa Barat dengan berkendara melawan arus saat diperintahkan putar balik.

Pada hari sebelumnya, petugas gabungan juga terpaksa meloloskan ratusan kendaraan karena terjadi kemacetan belasan kilometer akibat dilakukan pemeriksaan terhadap para pengendara.

Petugas sendiri berkilah, pemudik dengan tujuan kota-kota yang jauh walau berhasil menerobos titik pemeriksaan pertama, tidak akan lolos, karena akan menemui titik-titik penyekatan berikutnya.

Berbagai modus operandi, seperti dengan kamuflase tumpukan sayur atau barang-barang di bagian belakang truk, bahkan juga ternak, sementara para penumpang bersembunyi di bagian dalam juga dilakukan oleh para pemudik.

Selain mengggunakan kendaraaan sewaan (travel) liar secara estafet, mereka berganti kendaraan dengan titik peremuan di rest-rest area juga dilakukan para pemudik.

Ada lagi yang menggunakan keterangan tes antigen palsu seperti yang dilakukan empat orang berkendaraan pribadi yang kepergok polisi saat keluar pintu tol Tegal, Jawa Tengah. Mereka mengaku membayar Rp175.000 untuk mendapatkan keterangan tes antigen palsu.

Seorang calon penumpang pesawat udara dari Bandara Ahmad Yani, Semarang bernma Erwin Ahmad (50) tertangkap tangan karena memalsukan surat keterangan hasil tes reaksi rantai polymerase (PCR) yang bertanggal sama dan jam penerbitan berdekatan dengan jadwal keberangkatannya.

Padahal,  pemeriksaan PCR memerlukan waktu lebih enam jam untuk diketahui hasilnya, sehingga akhirnya ia mengakui mencetak sendiri surat keterangna tersebut.

RS Siap Hadapi Lonjakan  

Di tengah kerja ekstra keras pemerintah melakukan penyekatan di 333 titik sepanjang wilayah Lampung, Jawa dan Bali untuk menghadang pemudik nekat, rumah-rumah sakit sudah mulai mengantisipasi terjadinya lonjakan kasus Covid-19 sebelum dan pasca lebaran.

Kluster-kluster reuni keluarga atau halal bilhalal, pasar-pasar dan pusat perbelanjaan, mudik dan arus balik, apalagi sudah terdeteksi menyebarnya varian baru mutasi virus corona seperti B.1.1.7 asal Inggeris dan B.1.617 asal India yang lebih cepat penyebarannya dan lebih mematikan juga sangat mencemaskan.

Sejumlah epidemiolog juga mengingatkan, jika pencegahan munculnya kluster-kluster baru menjelang dan pasca lebaran gagal, tidak mustahil, Indonesia mengalami outbreak pandemi seperti terjadi di India saat ini.

Mengenai tren penurunan angka penambahan kasus harian Covid-19 dari di atas 10.000 kasus, bahkan pada 30 Januari mencapai 14.538 kasus menjadi 5 sampai 6-ribuan kasus sejak medio Februari, menurut epidemiolog UI, Junis Tri Miko tidak menunjukkan fakta sebenarnya.

Menurut dia, rendahnya angka penambahan kasus positif harian Covid-19 saat ini terjai karena menurunnka kegiatan pelacakan kontak (tracing) yang semula antara 20 sampai 30 kontak dari orang yang terpapar, sementara kini cuma sampai empat kontak.

Jadi ika pada 9 Mei, bahkan pertama kali tercatat angka terendah sejak tahun ini, yakni pertambahan harian hanya 3.922 kasus menjadi total 1.713.684 kasus dan yang meninggal bertambah 170 orang menjadi 47.012 orang, berarti angka realnya bisa mencapai lima kali lipatnya.

Keselamatan diri, keluarga dan bangsa ini tergantung kepatuhan kita terhadap prokes 5M. Mari kita patuhi bersama!

 

 

 

A

Advertisement