Pilihan Jatuh Ke Rafale

RI memborong 42 unit pesawat tempur multi peran generasi 4.5 Rafale buatan Perancis (enam unit gelombang pertama) yang akan memeperkuat skadron TNI-AU

SETELAH tarik-ulur lebih setahun tentang jenis pesawat tempur yang akan dibeli untuk menggantikan skadron F-5E Tiger yang sudah pensiun, pilihan akhirnya jatuh ke Rafale, buatan Dassault Aviation, Perancis.

Semula disebut-sebut pesawat tempur unggulan lainnya seperti F-15-EX Eagle, F-16 seri terakhir, Viper, Sukhoi SU-35 Rusia atau Eurofighter Typhoon buatan konsorsium Eropa.

Sekitar Oktober 2021, jenis pesawat mengerucut pada F-15EX dan Rafale, sementara pembelian 11 unit SU-35 yang sudah santer disebut-sebut sebelumnya dipastikan batal.

Negosiasi dengan fabrikan dan antara pemerintah RI dan  negara penjual tentu penuh dinamika walau tak terungkap ke publik. Terkait lobi-lobi, spesifikasi teknis, biaya operasional, imbal beli, suku cadang dan lainnya.

TNI sejauh ini belum pernah mengoperasikan pesawat tempur   Perancis, kecuali helikopter PUMA AS-330, tank-tank ringan AMX-13 dan sejumlah kecil meriam tarik kaliber 105 MM dan teranyar meriam swagerak kaliber 155 MM Caesar.

Pasca kemerdekaan, TNI-AU mengoperasikan pesawat-pesawat berbaling-baling eks-AS seperti P-51 Mustang, Bomber B-25 Mitchell dan B-26 Invader. Di Era Perang Dingin, RI yang condong ke Blok Timur mengoperasikan berbagai varian MiG (MiG-15, MiG-19, MiG-17 dan MiG-21) serta pembom Tupolev  TU-16 KS.

Baru di era Orba, akibat hubungan RI yang dingin pasca G30S, lebih banyak alutsista didatangkan dari AS terutama TNI-AU seperti F-86 Sabre buatan AS hibah dari Australia, A-4 Skyhawk seken dari Israel, F-16 seri A sampai D, selain Sukhoi SU-27 dan SU-30 eks-Rusia.

 Borong 42 unit

TNI-AU memborong 42 unit pesawat tempur multiperan yang dikembangkan dalam tiga versi sejak 2017 (berawak satu dan ganda, satu lagi khusus dioperasikan dari kapal induk).

Sejauh ini Rafale atau dalam Bahasa Perancis berarti angin topan selain digunakan oleh Perancis, juga Qatar yang baru membeli 80 unit, India 40 unit dan Mesir 52 unit.

Tidak diketahui total nilai kontrak pembelian Rafale tersebut, namun menurur catatan, salah satu varian Rafale buatan Dassault dihargai 115 juta dollar AS (Rp1,65 triliun), sementara biaya terbangnya Rp244 juta per jam.

Bersamaan dengan rencana pengadaan 42 unit Rafale, RI juga membeli 36 unit pesawat tempur Eagle F-15 D buatan AS, seri di bawah F-15 EX yang semula digadang-gadang, serta dua unit kapal selam tenaga diesel Scorpene dari Perancis.

Dengan rentang sayap10,9 M, panjang 15,3 M dan tinggi 5,3 M, kecepatan maks 1.8 MAC, daya jelajah 3.700 KM, Rafale  mengoperasikan radar pemindai elektronik yang relatif merupakan teknologi mutakhir, mampu menggembol sembilan ton bom dan aneka persenjataan.

Persenjataannya a.l rudal udara ke udara jarak menengah dan pendek AMRAAM dan ASRAAM, MAGIC II, rudal MBDA Meteor dan MICA, rudal anti kapal AM39 Excocet, rudal udara ke permukaan Apache dan Storm Shadow serta bom pintar Mark 82 dan GBU-12 Paveway serta kanon 30 mm.

“Kebal” Embargo

Kelebihan Rafale, seperti dijanjikan Dubes Perancis Olivier Chambard, RI tak perlu takut diembargo seperti yang acap dilakukan oleh AS.

F-15EX, F16 Viper, Taiphoon dan Rafale adalah pesawat generasi 4.0 atau 4.5 yang lebih maju dari jenis terdahulu walau di bawah generasi 5.0 seperti  siluman  F-35 Super Lightning II dan Sukhoi SU-57.

Dibandingkan dengan F-16 Viper yang dibandrol 64 juta dollar AS (sekitar Rp908,7 miliar) per unit dan F-15 EX 88 juta juta dollar AS (Rp1,25 triliun), harga Rafale (Rp1,65 triliun) jauh lebih mahal.

Dari sisi biaya terbang, Rafale Rp244 juta per jam, juga lebih mahal dibandingkan F-16 Viper (Rp113,6juta), namun lebih murah dari F-15EX  (Rp411,8 juta).

Pilihan sudah jatuh ke Rafale yang akan siaga menjaga dirgantara Indonesia.

 

 

 

 

 

Advertisement