Pisang Makanan Pokok?

Wapres Makruf Amin dan Gubernur Khofifah saat panen pisang cavendish di Ponorogo (Jatim).

BELUM lama ini Wapres Makruf Amin kasih “solusi” ketahanan pangan buat rakyat Indonesia. Katanya, dengan makan dua buah pisang, itu sama dengan makan nasi sepiring. Jika rakyat mau makan pisang sebagai diversifikasi pangan, niscaya pangsa pasar pisang akan semakin baik. Tapi apakah semudah itu manusia Indonesia yang dari jaman tempo doeloe makan nasi, harus berganti makanan pokok pisang.

Sesuai data Badan Pusat Statistik, produk pisang nasional dari tahun ke tahun terus meningkat. Pada tahun 1995, produksi pisang di Indonesia hanyalah 3,8 juta ton dan pada tahun 2012 telah meningkat hingga 6,1 juta ton. Kemudian sepanjang 2021 produksi pisang nai menjadi sebanyak 8,74 juta ton. Produksinya naik 6,82% dari tahun sebelumnya yang sebesar 8,18 juta ton.

Setiap daerah di Indonesia memang mampu produksi pisang cukup banyak, baik di desa maupun kota. Hanya di Jakarta, ada kampung Pisangan Baru dan Pisangan Lama, tapi sudah tak ada lagi yang tanam pisang karena semakin sempitnya lahan kosong. Tapi di berbagai daerah masih konsisten, punya kampung Gedangan karena di kampung itu masih banyak orang menanam pisang.

Ada 230-an species pisang di Indonesia. Di antaranya paling populer pisang ambon, pisang raja. Pisang raja pun macam-macam jenisnya, ada raja pendapa, raja kawista, raja sereh, raja bandung. Lalu ada pisang pulut, pisang kepok, pisang ceklek atau pisang ampyang, pisang emas yang kecil-kecil tapi konon bisa menawarkan kesaktian seseorang. Ada pula pisang kluthuk (pisang batu) untuk makanan burung, dan pisang tanduk yang gede-gede dan panjang mirip tanduk kerbau.

Pisang memang jenis tanaman yang mudah dibudidayakan. Tempat kering mau, di lahan lembab juga tidak nolak. Sekali tanam asalkan di musim penghujan, biarkan saja tak perlu perawatan akan tumbuh subur. Sekian bulan kemudian sudah berkembang biak dan bisa dipanen

Dan kini yang sedang populer, adalah pisang Cavendish, di mana buahnya mirip pisang ambon dari bentuk sampai rasanya. Cuma dia tidak mudah lembek sebagaimana pisang ambon. Sekarang di mana-mana digalakkan, sampai Wapres Makruf Amin ikut panen raya di daerah Pucung Ponorogo dan keluarlah statemennya untuk menggantikan nasi dengan pisang.

Di kala makanan pokok masih banyak dan murah, mana ada orang Indonesia mau menggantikan nasi dengan pisang rebus. Kayak nggak tahu aja, buah pisang itu hanya makanan iseng, bukan makanan pokok. Dia bisa dikolak, dibuat ceriping, sampai menjadi isi nagasari dan utri, hanya makanan buat jajanan pasar atau hidangan tamu.

Almarhum Jaksa Agung Baharudin Lopa, terkenal hobi makan pisang rebus, sehingga setiap ke kantor dalam tasnya selalu tersembunyi pisang rebus tersebut. Sampai-sampai ajudan heran, bungkusan kertas itu apa isinya? Apakah pistul, ternyata hanyalah pisang kapok rebus.

Apakah banyak orang yang sehobi Baharudin Lopa? Pak Wapres sendiri apa bisa dan mau, tiap hari makan pisang rebus sebagai pengganti nasi? Sarapan pisang rebus, makan siang makan pisang rebus, makan malam juga pisang rebus. Saking keselnya netizen atas saran Wapres, ada yang menyindir dengan mencoba makan soto campur pisang sebagai pengganti nasi, ya tentu saja tidak enak.

Ahok mantan Gubernur DKI Jakarta yang tumbang karena “berkat” Fatwa MUI era Makruf Amin, memang hobi makan pisang. Dia punya alasan, monyet tak pernah kena stroke karena tiap hari makan pisang. Tapi jika semua orang Indonesia menjadikan pisang sebagai makanan pokok, bagaimana nasib petani padi. Bagaimana pula nasib monyet-monyet itu, karena menu mereka sudah dimonopoli manusia pula.

Jaman sebelum tahun 1970, pisang rebus jadi “makanan pokok” orang kampung yang dibelit kemiskinan. Karena upah buruh tidak nguber untuk beli beras, banyak yang sehari-hari keluarganya dijejali pisang rebus. Krisis pangan itu menjadikan di daerah Purworejo selatan di jaman itu, banyak “tukang sunat”. Maksudnya buah pisang hilang di malam hari tinggal gagangnya, karena disunat oleh maling yang kelaparan.

Sebagai kenakalan anak kampung, penulis bersama teman-teman pernah tebang pisang di kebun orang, lalu diperam. Empat hari kemudian dibongkar, sudah mateng semuanya dan dimakanlah rame-rame. Bahkan rumah orangtuaku nyaris terbakar gara-gara adikku cari pisang yang diperam dalam tumpukan padi. Tiba-tiba oncor (lampu) minyaknya tumpah dan trampa (lumbung) itu pun terbakar. Untung api berhasil dipadamkan dengan cepat. (Cantrik Metaram)

 

 

Advertisement