
HIDUP di kota Jakarta yang sibuk dan padat, serasa tinggal di negeri koboi Texas, AS saja layaknya. Bagaimana tidak? Hanya serempetan kendaraan antara sepeda motor dan mobil orang bisa terpancing emosi. Peristiwa ini terjadi beberapa hari lalu, di Jalan Jatinegara Barat, Kampung Melayu, Jakarta Timur. Pelakunya Serda JR dari POM AU dan korbannya Letkol Dono Kuspriyanto, anggota POM AD. Agaknya Serda JR dalam kondisi mabuk mendadak merasa seperti Ken Arok. Dengan pistol Empu Gandringnya dia tega menembak mati Letkol Dono hanya karena perkara sepele.
Ken Arok adalah kekasih gelap Ken Dedes, istri Tunggul Ametung dari Tumapel. Kenapa dia selingkuh dengan istri seorang akuwu yang notabene juragan sendiri? Karena Ken Dedes tak puas dengan pelayanan Tunggul Ametung yang sudah loyo, tidak lagi rosa-rosa macam Mbah Marijan. Ken Dedes memang cantik jelita, sehingga Ken Arok pun tak kuasa untuk menampik datangnya “rejeki”.
Merasa tak nyaman jadi praktisi cinta di bawah tanah, Ken Arok bermaksud membinasakan Tunggul Ametung. Dia segera pesan keris pada Empu Gandring. Tapi sayang, hingga waktu yang dijanjikan belum siap juga. Yang ada hanyalah sebilah keris ngececeng telanjang, belum ada wrangka atau sarungnya. Padahal Ken Arok sudah ngebet banget untuk segera menunaikan niat jahatnya.
Keris setengah jadi itupun direbutnya, lalu ditusukkan ke dada Empu Gandring, jlebbb….. Tapi sebelum wasalam, Empu Gandring sempat mengutuknya, “Awas Ken Arok, keris itu akan memakan 7 nyawa, termasuk kau sendiri.” Ken Arok yang masih emosi hanya menggumam “Haesss…..prekkkk!” dan ngeloyor pergi sambil membawa pulang keris telanjang.
Dengan membawa keris nan sakti Ken Arok menjadi demikian pede. Akuwu Tunggul Ametung berhasil dibunuhnya melalului tangan Kebo Ijo. Tapi Ken Arok sendiri terbunuh oleh keris Empu Gandring lewat tangan Ki Pengalasan suruhan Anusapati putra Tunggul Ametung. Giliran Anusapati membunuh Ki Pengalasan untuk menjaga agar rahasia pembunuhan ini tidak bocor. Namun pada akhirnya Anusapati binasa oleh keris tersebut melalui Tohjoyo putra Ken Arok. Lalu Tohjoyo terbunuh dalam pemberontakan, tapi bukan lewat keris ini.
Demikianlah, keris Empu Gandring telah membunuh 6 nyawa akibat kutukan sang pembuatnya. Kenapa ramalan Empu Gandring agak meleset, tak diketahui pasti. Yang jelas, siapa pun pemegang keris itu mendadak karakternya menjadi brangasan mudah emosi. Jika pinjam istilah sekarang, “Gue matiin lu……!”
Rupanya, Serda JR oknum dari POM AU Jakarta juga begitu. Pegang pistol Empu Gandring, menjadi pede banget jadi orang. Lebih-lebih dalam kondisi mabuk sebagaimana dugaan polisi, emosinya menjadi berlipat. Hanya sepeda motor yang dikendarai terserempet mobil TNI, yang berarti sama-sama alat negara, kok jadi emosi. Di mana rasa kesetiakawanan profesi. Mestinya, meski minta tanggungjawab si penyerempat kan tak perlu keluarkan senjata api. Bisa dibenerke setan lho.
Dan itu ternyata benar-benar terjadi. Setan dari busway Kampung Melayu, mampir dan menyelinap ke senjata api di tangan Serda JR. Sembilan kali lepasan pistol, dua diantaranya dibuat tepat ke perut dan pelipis pengendara, yang ternyata Letkol Dono Kuspriyanto. Tentu saja TNI dari kesatuan POM AD itu tewas di tempat. Sedangkan Serda JR ditangkap beberapa saat kemudian di Pasar Jengki, Kampung Makasar.
Insiden berdarah antara aparat bersenjata beberapa kali terjadi. Tapi hanya karena serempetan kendaraan mungkin baru model Serda JR. Karena mabok, barangkali dia jadi lupa bahwa setiap selongsong peluru yang lepas dari senjata miliknya harus dipertanggungjawabkan. Akibat ulahnya yang konyol ini, dia terancam 15 tahun penjara.
Bagi kalangan militer mestinya pegang senjata api sudah hal biasa, seperti pak tani bawa cangkul ke sawah. Tak perlu dijadikan alat untuk menakut-nakuti orang. Kalau orang sipil memang banyak yang pegang senjata api berijin jadi sok-sokan. Maka inilah ironi kehidupan, yang sipil sok militeris, yang militer malah sok sipilis, maksudnya bersikap seperti sipil, begitu. (Cantrik Metaram)




