
RAMALLAH – Perdana Menteri Palestina Rami Hamdallah meminta Dewan Keamanan PBB untuk menekan Israel untuk mengakhiri pendudukannya selama puluhan tahun di wilayah Palestina.
“Kami meminta PBB dan Dewan Keamanan untuk memikul tanggung jawab mereka dan menekan Israel untuk mengakhiri pendudukannya atas tanah Palestina, termasuk Yerusalem Timur,” Hamdallah mengatakan dalam sebuah konferensi pers menjelang pertemuan kabinet mingguan di Ramallah,
pada hari Selasa (12/12/2017).
Perdana Menteri Palestina tersebut mengecam keputusan Presiden AS Donald Trump minggu lalu untuk mengakui Yerusalem sebagai ibu kota Israel, menyebutnya “tidak adil” dan sebuah pelanggaran terhadap legitimasi internasional dan resolusi Dewan Keamanan PBB dan sebuah serangan terhadap rakyatnya.
“Kami tidak akan pernah meninggalkan Yerusalem atau kompromi identitas Arab dan situs sucinya,” katanya, kemudian menyerukan Liga Arab dan Organisasi Kerjasama Islam (OKI) untuk membela kota suci tersebut.
Dilansir Anadolu, Hamdallah juga meminta negara-negara dunia untuk mengakui sebuah negara Palestina dengan Yerusalem Timur sebagai ibukotanya.
Yerusalem tetap menjadi jantung konflik Israel-Palestina, dengan orang-orang Palestina berharap bahwa Yerusalem Timur yang diduduki oleh Israel pada tahun 1967, pada akhirnya dapat berfungsi sebagai ibu kota negara Palestina masa depan.
Kebalikan dramatis dari kebijakan AS di Yerusalem telah memicu gelombang protes di wilayah Palestina dan beberapa negara Arab dan Muslim.




