JAKARTA – Di tengah polemik seputar impor Kereta Rel Listrik (KRL) bekas, Menteri BUMN, Erick Thohir, mengonfirmasi bahwa impor KRL hanya akan dilakukan untuk memenuhi kebutuhan sementara. Sembari, menunggu produksi kereta dari PT Industri Kereta Api (INKA) selesai.
“Dalam hal impor, kami hanya akan meminta jumlah yang minimal. Hal ini hanya untuk menutupi kebutuhan dalam 6 atau 7 bulan ke depan,” kata Menteri BUMN Erick dalam Rapat Kerja Komisi VI DPR RI di Jakarta, Senin (6/6/2023).
Erick menjelaskan bahwa setelah rapat dengan INKA dan PT KAI, terdapat peningkatan jumlah penumpang yang melebihi prediksi setelah pandemi Covid-19 berakhir.
Peningkatan jumlah penumpang ini tidak hanya terjadi di kereta, tetapi juga pada penumpang pesawat di Bandara Soekarno Hatta dan Bandara Ngurah Rai, Bali.
“Saat ini, angka penumpang di Bandara Soekarno Hatta sudah sangat tinggi dibandingkan sebelum Covid-19. Di Bali juga menjadi catatan penting karena dalam 4 bulan akan ada pengumuman bahwa jumlah penumpang akan melebihi target yang ditetapkan,” ucapnya.
Dia juga menambahkan bahwa pembangunan infrastruktur akan selalu menjadi masalah baru ketika ekonomi global pulih dari efek pandemi Covid-19. Meskipun demikian, masih ada ketegangan geopolitik dan masalah dalam pemenuhan rantai pasokan.
Oleh karena itu, sambil menunggu PT Industri Kereta Api (INKA) menyelesaikan produksi gerbong kereta api, impor kereta bekas menjadi salah satu solusi cepat untuk memenuhi kebutuhan jangka pendek para pengguna kereta.
“Mengikuti kebutuhan suplai kereta api, INKA melakukan impor sebagai salah satu langkah positif bagi Indonesia. Namun, ini harus diiringi dengan produksi dalam negeri,” jelas Menteri BUMN Erick.
Untuk meningkatkan kemampuan produksi INKA, Menteri Erick bersama Menteri Perhubungan, Menteri Koordinator Bidang Maritim dan Investasi, dan Menteri Perindustrian sepakat untuk menyuntikkan dana sebesar Rp3 triliun kepada INKA melalui Penyertaan Modal Negara (PMN) tunai pada tahun anggaran 2024.
Dana tersebut akan digunakan sebagai modal tambahan bagi INKA guna mengantisipasi pertumbuhan kebutuhan gerbong kereta api yang baru.
“INKA membutuhkan tambahan dana sebesar Rp3 triliun untuk menyehatkan perusahaannya dan mencapai keseimbangan antara produksi gerbong dan peningkatan kebutuhan kereta api,” tutur Erick.
Menurutnya, saat ini INKA memiliki pabrik dengan dua jenis kualitas. Pertama, pabrik yang berlokasi di Banyuwangi yang memiliki standar tinggi karena bekerja sama dengan perusahaan Swiss Stadler untuk memenuhi kebutuhan gerbong kereta api di Asia Tenggara. Sedangkan pabrik lainnya memiliki kualitas standar nasional.
Sumber: Antara





