Poligami Bisa Bikin Botak?

Demo kaum wanita di Medan, menentang Gubernur Gatot yang poligami.

AKHIR tahun 2016 lalu diberitakan, penduduk Kabupaten Pamekasan (Madura), mengalami surplus wanita. Data BPS setempat menyebutkan, dari 827.400 penduduk di kabupaten itu, ternyata jumlah wanitanya mencapai 425.400 jiwa, sementara kaum lelakinya hanya 402.000 jiwa. Berarti ada 23.400 wanita yang berpotensi tanpa pasangan. Karena itulah DPRD Pamekasan sampai punya wacana melegalkan poligami lewat Perda. Padahal sejatinya, poligami justru punya potensi menjadikan seorang lelaki botak kepala!

Apa hubungannya, antara poligami dan pertumbuhan rambut? Sebetulnya memang tak ada, tapi ketika persaingan berbasis cemburu antara bini muda dan bini tua makin menajam, kebotakan telah mengancam lelaki. Logikanya adalah: bini muda yang ingin suami tetap tampak muda, rajin mencabuti rambut suami yang sudah memutih. Sebaliknya bini tua, agar suami tak macem-macem, sengaja dia mencabuti rambut hitam suami. Walhasil, karena rambut suami produknya terbatas, terjadilah kebotakan itu.

Tapi kata pihak lain yang pro poligami, justru berpoligami, berbini dua sampai empat, akan menjadikan tubuh selalu bersih terpelihara. Bagaimana logikanya? Karena seorang poligamer itu akan sering mandi junub, seusai melayani para istri. Bayangkan, sehari mandi sampai 3-4 kali, apakah tidak menjadikan tubuh bersih dan sehat?

Dalam Islam, beristri lebih dari satu memang tidak dilarang. Qur’n surat Anisa ayat 3 menggariskan, “Kawinilah perempuan satu sampai  empat, bilamana mampu. Jika tidak, cukup satu saja.” Dari ayat tersebut bisa ditafsirkan bahwa poligami hanyalah alternatif dalam kondisi darurat (mubah), bukan wajib. Celakanya, banyak lelaki yang menganggap itu sebuah kewajiban, sehingga teroris bom Bali sebagaimana Amrozi pernah bilang, “Saya sudah punya dua bini, berarti kurang dua lagi.”

Banyak pula yang beranggapan, poligami adalah sunah Nabi. Nanti dulu, Nabi Muhammad dulu poligami dengan tujuan untuk memuliakan para janda yang suaminya jadi korban perang. Sedangkan manusia sekarang, kaum lelaki mau poligami sekedar untuk melegalkan syahwat yang menggebu-gebu atas wanita. Karenanya pasti dicari wanita yang masih muda, kinclong nan bening, sekel nan cemekel. Mana ada poligami dengan sasaran nenek-nenek yang sudah udzur dan kentut melulu.

Kata juragan ayam bakar Wong Solo, Puspa Wardoyo, banyak istri banyak rejeki. Siapa bilang? Aa Gym ustadz kondang dari Bandung, ketika dia poligami dengan Teh Rini, jemaah pesantren Daarut Tauhid miliknya langsung turun drastis, tinggal 10 %. Karyawan yang semula 300-an orang banyak dirumahkan. Dan Puspa Wardoyo, kasus poligami Aa Gym berdampak dengan meredupnya bisnis ayam bakarnya di berbagai kota. Para ibu tidak ridla suaminya jajan di situ, apa lagi menikmati es jus poligami.

Poligami yang bermotif sekedar pelepasan syahwat, akan menyesal pada akhirnya. Sebab setelah perkawinan itu terjadi sebulan dua bulan, gairah sebagai pengantin baru telah sirna. Istri yang tadinya gersang alias seger merangsang, kini biasa-biasa saja. Yang ada justru problem-problem baru, karena banyak bertikai dengan istri tua. Bahkan pernah terjadi, konglomerat kondang dipukul anak lelakinya, gara-gara bapaknya kawin lagi dengan artis.

Sebagaimana dipesankan dalam surat Anisa ayat 3, poligami harus didasari kemampuan. Kemampuan itu bukan saja kemampuan di atas ranjang, 3 kali seminggu sesendok makan, tapi kemampuan berlaku adil atas istri-istrinya. Ini paling susah. Sebab istri muda dan istri tua akan selalu berhitung atas “pembagian” dari suami mereka. Jika dinilai tak sama dan seimbang, ributlah. Walhasil, poligami itu harus berbanding lurus antara kemampuan materil dan onderdil.

Paling parah, poligami sering menyebabkan lelaki jadi jago bohong di dunia. Dia bohong pada bini muda, bohong pula pada bini tua, karena itu menjadi bagian dari menejemen konflik. Dengan alasan menghindari keributan, para poligamer akan menjadikan hari-hari penuh kebohongan. (Cantrik Metaram)

Advertisement