Poligami Hindari “Istikomah”

Jika tak mampu secara materi, poligami justru akan terjebak menjadi "istikomah" belaka.

ANDAIKAN seks tidak dijadikan panglima, mungkin situasi dunia akan selalu aman damai. Dunia takkan berkembang secara pesat baik secara kwantitas maupun kwalitas. Sebab seks hanyalah sekedar alat untuk mempertahankan jenis (keturunan) belaka. Tapi karena seks menjadi hajat tertinggi melebihi sembako, dunia bergejolak terus dengan segala dinamikanya. Orang sampai korupsi, antara lain juga demi memanjakan kebutuhan seks. Bahkan banyak juga orang yang menganggap seks sebagai alat rekreasi, sehingga melakukannya dengan bertameng tuntunan agama.

Di Jakarta 3 Desember mendatang akan digelar seminar “Cara kilat beristri 4” dengan biaya Rp 3,5 juta hingga Rp 5 juta. MUI pun mengecamnya, karena terkesan Islam menonjolkan syahwat belaka. Islam memang membolehkan lelaki berbini sampai 4, tapi sifatnya darurat, dalam arti: jika mampu. Jika tak mampu tapi memaksakan diri, akan terjebak ungkapan “istikomah” dalam arti: istri tiga kontrak rumah. Apa tidak capek tuh, suami mondar-mandir hanya sekedar untuk menggilir.

Manusia itu memang paling gemar menempuh jalan pintas, potong kompas! Tahun 1960-an Sutan Sulaiman mengarang buku “Belajar Bahasa Inggris sistem 50 jam”. Buku itu berisi panduan untuk menguasai Bahasa Inggris secara cepat dan sistimatis. Bayangkan, hanya dalam tempo 50 jam orang sudah bisa berbahasa Inggris ses ses oes sess…..

Tapi di era gombalisasi ini, ada juga cara cepat menguasai 4 wanita hanya dalam beberapa jam seminar. Adalah Dauroh Poligami Indonesia yang menggelar seminar itu tanggal 3 Desember mendatang. Peserta lelaki harus membayar Rp 3,5 juta sebelum seminar berlangsung. Jika membayarnya di hari H, biayanya jadi Rp 5 juta. Peserta lelaki dibatasi sebanyak 20 orang, dan wanita bebas jumlahnya dan bebas pula biayanya.

Dari alokasi peserta saja sudah bisa memancing dugaan nakal. Para lelaki yang hadir pastilah manusia-manusia yang rupiahnya tak pernah bermasalah (kaya). Sedangkan peserta wanita tanpa seleksi, karena diharapkan bisa masuk para gadis cantik menawan sebanyak-banyaknya. Nah, siapa tahu habis seminar ada yang cocok dan ketemu jodoh. Siapa tahu pula, di antara mereka banyak juga yang siap dijadikan medan poligami.

Kesannya seminar “Cara kilat beristri 4” ini memang sengaja membisniskan ajaran agama. Bahkan MUI menilai, seminar ini akan menimbulkan image bahwa Islam menonjolkan urusan syahwat. Maka Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI), Zainut Tauhid Sa’adi bilang, “Pernikahan tidak boleh hanya coba-coba atau main-main, jika main-main maka haram hukumnya.”

Dalam Qur’an surat Anissa ayat 3 digariskan, “Kawinilah perempuan 1 sampai 4, jika mampu. Jika tidak hendaklah mengawini satu saja.” Dari ayat itu bisa disimpulkan bahwa berpoligami bukanlah wajib, ayat ini memberi ruang pada lelaki yang terkena UGDS (Unit Gawat Darurat Syahwat).

Poligami itu tidak cukup hanya kesiapan onderdil, tapi juga materil. Kata “mampu” dalam ayat itu maknanya juga sangat luas. Bukan saja mampu onderdil dan materil, tapi juga harus berlaku adil. Terakhir itu yang paling susah. Jika membedakan bini satu sama lain, bisa terjadi perang Korut-AS berkepanjangan.

Dan paling celaka adalah, poligami hanya kuat di onderdil tapi lemah secara materil. Dia akan terjebak menjadi lelaki “istikomah”, istrinya sampai tiga tapi masih kontrak rumah. Istri dianggap benar-benar istri hanya saat di ranjang. Di luar itu harus cari makan sendiri. Orang Jawa Timur punya ungkapan:  Kembang telon jejer telu, kembang setaman dicampur krawe. Yen lagi kelon karo aku, sandhang pangan goleka dhewe. Jelas ini hanya enak bagi lelaki, tapi enek bagi wanita. (Cantrik Metaram)

Advertisement