POLISI itu disebut juga bayangkara negara. Tapi pada HUT Bayangkara ke-71 tanggal 1 Juli kemarin, justru sejumlah polisi jadi bayangan (digotong) karena menjadi korban keganasan kaum teroris. Kenapa teroris selalu memusuhi polisi yang bergaji kecil? Kenapa tak menyerang saja koruptor dan oknum DPR yang suka ngomong ngaco? Bila melakukan ini, dijamin malah dapat simpati publik.
Polisi itu bergaji kecil. Status mereka sebagai penegak hukum, tapi kendil di rumah sering tak bisa tegak. Jika ingin kaya harus pinter-pinter ngobyek. Jika ada polisi punya rekening gendut, pasti itu hanya di kalangan tingkat atas dan harus disebut oknum. KPK pernah mencoba menyasar mereka, tapi berkat gugatan pra peradilan, justru KPK-nya yang dibuat klipuk (tak berdaya). Maka yang pernah jadi tersangka itu bebas malang melintang membangun karier.
Betapa kecilnya gaji bayangkara negara tersebut, Kapolri Tito Karnavian juga menyadari. Ingin sekali dia bisa meningkatkan kesejahteraan anak buahnya. Tapi apa daya, anggaran Polri selalu mepet. Itupun beberapa kali dipangkas gara-gara negara mengalami defisit APBN. Dalam kondisi anggaran yang kritis itu masih pula digerogoti untuk pengamanan demo berjilid-jilid seputar Pilkada DKI kemarin. Sampai-sampai Presiden Jokowi memprediksi, anggaran Polri bisa habis ratusan miliar hanya untuk pengamanan demo.
Seakan memberi lampu hijau, seorang petinggi Polri pernah ngaku bahwa tanpa ngobyek polisi tak mungkin bisa kaya. Jika ngobyeknya masih melalui jalur resmi, artinya tak bertentangan dengan hukum, silakan saja. Tapi jika ngobyeknya ala eks Irjen Joko Susilo, negara bisa bangkrut karenanya. Imbasnya rakyat tak bisa sejahtera. Yang sejahtera justru para bini muda oknum jendral yang belum mengerti revolusi mental.
Tetapi meski bergaji kecil, polisi harus tetap setia sebagai bayangkara negara. Siap jadi bayangan demi penegakan hukum. Ironisnya, di kala Indonesia marak dengan praktek terorisme, kenapa yang jadi sasaran teroris itu kebanyakan justru anggota Polri, termasuk Brimob. Setelah penyerangan di Mapolda Sumut dengan menewaskan Aiptu Matua Sigalingging, menyusul kemudian penusukan 2 anggota Brimob saat salat Isya di Mesjid Faletehan, Kebayoran Baru, Jakarta.
Namun begitulah teroris. Mereka menganggap bahwa polisi bagian dari thogut (setan) yang harus diperangi. Mereka meyakini betul bahwa lewat gerakan amaliah seperti itu, akan bisa masuk surga lewat “jalur independent”. Mereka sudah kadung tercuci otaknya, sehingga berkeyakinan bahwa mati dengan cara bunuh diri pun akan bisa masuk surga tanpa hisab.
Namanya juga teroris, mereka akan selalu meneror masarakat sebisanya, dengan cara apapun. Padahal jika mereka mau dapat simpati massa, kenapa tidak menyerang saja para koruptor musuh negara? Atau para oknum DPR yang suka ngomong ngaco, lupa bahwa dirinya adalah wakil rakyat.
Polisi yang jadi sasaran teroris selalu yang kelas prajurit (pangkat rendah), karena mereka terkenal jujur dan irit. Kejujuran bayangkara negara itu memang harus dipertahankan dan dipelihara. Jangan sampai kejujuran itu hanya milik para pendahulu di masa lalu, sebagaimana Kapolri Sukanto, dan Hugeng Imam Santosa. Mereka siap hidup miskin demi menjaga integritas bayangkara negara.
Sebab setelah sepeninggal mereka ada juga petinggi Polri yang bisa memperkaya diri lewat kekuasaannya. Dia bisa memutasi Kapolda yang tak mau kerja “kerjasama” dengan cukong. Dan beliaunya memang berhasil kaya raya, paling tidak mobil di garasinya pun seperti show room saja laiknya. (Cantrik Metaram).





