Polisi kok Nembak Polisi?

Jenasah Bripka Rachmat Effendy diusung menuju TPU Jonggol, Cimanggis (26/7). Bripka Rachmat ditembak sesama anggota Polisi, Brigadir RT yang memaksa mengambil keponakannya (FZ), tersangka tawuran dan membawa clurit dari Sentra Pelayanan Polsek Cimanggis, Jabar.

BRIPKA Rachmat Effendy (RE), anggota Polsek Cimanggis, Bogor tewas sia-sia di tangan sesama polisi, Brigadir RT, Kamis malam (25/7) hanya gara-gara berselisih paham soal penanganan tersangka kasus tawuran.

Emosi RT meluap setelah korban (RE) menolak permintaannya untuk mengeluarkan salah satu keponakannya, FZ yang ditahan di Polsek Cimanggis akibat terlibat tawuran dan membawa clurit.

RE berdalih, kasus FZ sedang diproses hukum sehingga ia tidak bisa dikeluarkan begitu saja, namun RT yang tidak bisa terima alasan RE yang katanya dilontarkan dengan nada tinggi, mengambil dan langsung menyalakkan pistol HS9 miliknya ke tubuh korban.

Tujuh proyektil pestol yang disarangkan dari jarak dekat, membuat RE yang menurut atasannya adalah pribadi yang berdedikasi tinggi dan tanggap terhadap keamanan di lingkungannya itu tersungkur dan menghembuskan nafas terakhir di TKP.

Pada kasus saat kejadian, RE sebenarnya juga berbuat baik dan sesuai prosedur, mengamankan FZ dari aksi main hakim sendiri oleh massa, ke Polsek Cimanggis.

“Jika tidak diamankan, FZ bakal dikeroyok warga, namun itikad baik korban malah merenggut nyawanya, “ tutur komandan RE, Kasubdit Lalulintas Polda Metro Jaya AKBP Sudarmadji.

Pelaku yang diduga melakukan dua jenis dugaan pelanggaran yakni memegang senpi di luar tugas dan campur tangan dalam proses hukum yang bukan wewenangnya, diperiksa oleh Dit. Reserse dan Kriminal Umum Polda Metro Jaya.

Kasus Brigadir RT, bagaikan “nila setitik, merusak susu sebelanga” di tengah semakin membaiknya citra kepolisian sejak dipimpin oleh Jenderal Tito Karnavian yang dilantik menjadi kapolri sejak 13 Juli 2016.

Jajak pendapat harian Kompas Juli lalu mencatat, 70,8 persen responden puas atas kinerja polisi, terutama terkait penanganan (71,2 persen), terorisme (73,6 persen), kasus kriminalitas (70,5 persen) dan kasus bernuansa SARA (64,6 persen). Mayoritas responden (71,2 persen) juga menilai citra polisi baik.

Namun demikian, terjadinya gesekan antara sesama oknum aparat, baik antarsesama polisi, polisi dan TNI, atau antarkesatuan di TNI gara-gara persoalan sepele, harus dicegah, apalagi yang menggunakan senjata, terlebih sampai menghilangkan nyawa.

Kasus antaraparat lainnya
Kasus gesekan antaraparat yang menjadi viral di media sebelumnya dialami Letkol CPM Dono Kuspriyanto (56) yang tewas ditembak saat melintasi Jl. Jatinegara Barat, Jakarta Timur (25/12) oleh Serda TNI-AU JR hanya karena senggolan kendaraan di jalanan.

Dua pekan sebelumnya (12/12), Polsek Ciracas, Jakarta Timur dibakar puluhan oknum-oknum TNI-AD yang kesal karena menilai polisi lamban menangani kasus pengeroyokan atas seorang kapten TNI-AD oleh sejumlah juru parkir dekat lokasi kejadian.

Selain janggal dan contoh perilaku buruk yang selayaknya tidak dilakukan aparat penegak hukum, soliditas dan kekompakan jajaran dan segenap pimpinan Polri dan TNI di tengah-tengah gunjang-ganjing politik di negeri ini, bisa tercederai, jika gesekan-gesekan akibat persoalan sepele atau pribadi anggotanya terus berulang.

Banyak kasus-kasus gesekan akibat persoalan sepele antaraparat di daerah yang tidak sampai mencuat di media, dan biasanya cukup diselesaikan secara damai karena dianggap “kesalahpahaman biasa”.

Agaknya walau katanya penggunaan senjata sudah ketat diawasi,pengecekan berjenjang perlu ditingkatkan lagi, selain harus dicamkan pula pada diri setiap aparat, berkelahi apalagi sampai meletuskan senjata pada sesama aparat adalah perbuatan tabu yang membuat aib kesatuan.

Advertisement